Cari Blog Ini

Kamis, 05 Agustus 2010

Ketik : PBB # Nama # Instansi # Profesi . Ke : 022-76697476



SIMBIOSA REKATAMA MEDIA


Mengadakan acara Talkshow Motivasi terdahsyat tahun 2010 dengan menghadirkan para motivator :

1. Freedy Faldi Syukur ( motivator dan pengembang sistem Hypnoteaching dan NLP )

2. Edi Susanto ( Motivator Financial dan Entrepreneur )

3. Rahayu S Purnami ( Motivator SDM dan Pengembangan kepribadian )

Acara Talkshow ini GRATIS !!! tetapi tempat terbatas.


Tempatnya di : Landmark Convention Hall

Jl. Braga No. 129 Bandung.

Jam acaranya : 12.30 s.d 15.00 Wib


Harinya : Sabtu.

Untuk pemesanan tempat dengan mengetik :

PBB # Nama # Instnasi # Profesi .

Ke : 022-76697476.

Selasa, 27 Juli 2010

KOMUNIKASI POLITIK




Komunikasi Politik dalam Pilkada Langsung.
Penulis : Drs. Mahi M.Hikmat,M.Si
Penerbit : simbiosa rekatama media
harga : 48.000
terbitan : juli 2010

Kajian terhadap ilmu komunikasi tidak dapat mengisolasi dari pengaruh kajian ilmu sosial lainnya, seperti sosiologi, psikologi, antropologi, hukum, dan ilmu politik. perpaduan kajian antara ilmu komunikasi dan ilmu sosial lainnya menghasilkan bentuk perkembangan baru, salah satunya komunikasi politik. Komunikasi politik tidak hanya berkisar pada pembahasan proses komunikasi yang memuat pesan-pesan politik, tetapi juga membahas komunikasi dapat berlangsung dalam satu sistem politik atau pemerintahan yang mencakup bagaimana komunikasi dapat berlangsung dalam suatu sistem politik dapat dipertahankan dan berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selain itu, bahasan politik tidak hanya berkisar dalam satu sistem intranegara, tetapi melintasi batas wilayah sistem ekstanegara sehingga akan bertemu berbagai sistem dan akan saling mempengaruhi antara satu dan yang lainnya.

Buku ini memfokuskan diri pada kajian komunikasi politik dalam proses pilkada langsung di Indonesia dengan mengupas berbagai aspek dan permasalahan yang terjadi, disertai solusinya. Didalamnya juga dibahas bagaimana perubahan komunikasi politik yang terjadi diantara pelakunya sehubungan dengan perubahan sistem pemilihan kepala daerah di Indonesia. Ditulis dengan mengkombinasikan antara teori, praktik, penemuan, penelitian dan analisis penulis tentang pilkada langsung di Indonesia.

Manfaat buku ini bagi :

- Mahasiswa Fakultas Ilmu komunikasi dan sosial politik

- Para akademisi

- Para politisi

- Steak holder

- Penyelenggara pilkada

- Anggota partai politik

- Tim kampanye pilkada

- Bakal calon kepala daerha

- serta anda yang peduli dan berminat menyukseskan pilkada di Indonesia.

Selasa, 13 Juli 2010

KOMUNIKASI DAKWAH



Judul buku :Komunikasi Dakwah (Paradigma untuk aksi)
Terbitan : Simbiosa rekatama media
Penulis : DR. Bambang S Ma'arif
Tahun terbit : Juli 2010
Harga : Rp. 40.000

Secara Istilah, dakwah mengajarkan nilai-nilai Islam kepada Masyarakat luas. Ajaran Islam dan nilai- nilainya disajikan dengan menjelaskan kepada masyarakat agar mereka dapat memahami,menyetujui kandungan pesannya, dan mengamalkannya. Dakwah berupaya untuk membawa masyarakat kearah kebajikan yang dinalis, seimbang dengan menegakkan serta menyempurnakan kepribadian yang berakhlakul karimah. Dakwah merupakan suatu proses internalisasi, transmisi, difusi, institusionalisasi dan transformasi islam yang melibatkan, antara lain komunikator dakwah ( da'i) Komunikan dakwah ( Mad'u) pesan, konteks dan respon untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik, selamat di dunia dan akhirat.

Buku ini berupaya untuk menghadirkan komunikasi dan dakwah dalam paradigma integral, sebagai paradigma komunikasi dakwah.Paradigma tersebut menjadi suatu titik tolak bagi para pelaku komunikasi dakwah, yang berpengaruh kepada materi teknik, dan etika komunikasinya.

Saat komunikasi menjalankan fungsi dakwah, peranan komunikasi menjadi mulia. Disinilah komunikasi sebagai komunikator dakwah dalam menjalankan perananya.

Buku ini ditujukan untuk para dai, mubaligh, komunikator dakwah, mahasiswa fakultas dakwah jurusan komunikasi penyiaran Islam, dan siapapun yang berminat mendalami ilmu komunikasi dakwah.

Info lengkap hubungi : Dody Iskandar,SH
Tlp : 022-76697476

Kamis, 08 Juli 2010

Change Your Dreams!!!



Pengantar Penulis
Mimpi merupakan bagian yang paling dalam dari kehidupan. Mimpi merupakan satu kesatuan dalam diri manusia yang menggambarkan rekaman pengalaman kehidupan seseorang. Oleh sebab itu, mimpi adalah sebuah imajinasi yang kuat dan dimiliki oleh hampir semua orang. Impian seseorang bisa berwujud keinginan, cita-cita, angan-angan, harapan, yang sewaktu-waktu bisa terwujud atau tidak sama sekali, tergantung orang yang memimpikannya.
Dengan mimpi, kita bisa mendapatkan segalanya tanpa batas. Believe or not, yang jelas banyak orang besar dan sukses berawal dari mimpi-mimpinya: Guttenberg, Thomas Alpa Edison, Einstein dan Isaac Newton, atau ilmuan-ilmuan lainnya yang namanya sampe sekarang di kenang orang sejagat.
Akan tetapi, jangan heran ketika kita menyaksikan begitu banyak orang yang sukses atau gagal dalam menggapai impiannya, bahkan tidak sedikit orang menderita karena mimpinya tidak “terbeli”. Padahal, semua orang punya potensi untuk meraih mimpinya.
Potensi penting yang perlu dimanfaatkan adalah kemampuan nalar (otak) karena berawal dari otak yang kurang dimanfaatkan secara maksimallah orang menjadi mandul untuk maju, kreativitasnya nggak berkembang, dan ujung-ujung kebingungan, mesti bagaimana memanfaatkan potensi yang dimilikinya itu.
Buku ini mengupas bagaimana mewujudkan impian agar tidak hanya menjadi angan-angan. Mulai dari me-manage potensi, mengubah mindset, dan mengelola keinginan, serta memanfaatkan waktu. Dengan demikian, buku ini penting dibaca oleh mereka yang masih punya keyakinan bahwa masa lalu adalah pengalaman, masa kini adalah kesempatan, dan masa yang akan datang adalah kesuksesan.
Mudah-mudahan kehadiran buku ini bisa mengantarkan Anda menjadi orang-orang yang mampu meraih impian sehingga dapat digolongkan dalam kelompok manusia sukses dan menjadi kebanggaan setiap orang yang mengenal Anda.
Semoga Sukses.

KELIMA
Kebiasaan Mengubah Mimpi

Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang.
Maka, keunggulan bukanlah hasil dari tindakan,
melainkan dari kebiasaan.
— ARISTOTELES

Ini ada data menarik untuk kamu simak .
Pada tahun 1970-an, berbagai sekolah menghadapi masalah besar mengenai kedisiplinan, seperti datang berlambat, nggak membuat PR, ngobrol di kelas, berkelahi, berpakaian seenaknya, kabur dari sekolah, dan merokok di WC sekolah. Pada 1990-an sampe tahun 2005, masalah yang dihadapi berubah menjadi tawuran antarsekolah, narkoba, vandalisme, pencurian handhone, seks bebas sampe rekaman adegan syur di handphone atau VCD.

Pada tahun 1980-an, mahasiswa Indonesia yang sekolah di Amerika Serikat urunan berlanggaan majalah Tempo. Namun, pada tahun 1990-an mahasiswa Indonesia yang sekolah di Amerika Serikat itu nggak ada lagi yang berlangganan majalah karena semua berita dapat diakses lewat internet.

Pada tahun 2000, Garuda Indonesia memperoleh penghargaan sebagai The Most Punctual Airlines, dari Bandara Schipol di Amsterdam. Kemudian empat tahun berikutnya, tepatnya Oktober 2004, Garuda Indonesia menutup satu-satunya rute yang masih dimilikinya ke Eropa, yaitu Amsterdam karena rute ini nggak menguntungkan.
(Tahun berapa??) Bali diguncang bom sampe dua kali. Sebelumnya bom meruntuhkan gedung Pentagon dan WTC (World Trade Center) di Amerika Serikat yang saat itu mengagetkan dunia. Nggak lama setelah itu, meletuslah perang antara kaum yang mengatasnamakan ‘pembela’ umat manusia dan kalangan yang dituduh teroris. Gaung perang melawan terorisme pun menggejala di setiap pelosok dunia.
Itulah serangkaian perubahan-perubahan yang mengguncang kita semua. Mungkin ini miniatur atau sebagian dari perubahan-perubahan yang udah, sedang, bahkan mungkin akan terjadi lagi di masa mendatang.
Masih banyak lagi peluang perubahan yang terjadi di dunia. Waktu berubah, tatanan masyarakat ikut berubah, dan sikap-sikap manusianya pun berubah pula. Seperti Osama bin Laden yang dulu dianggap pahlawan oleh bangsa Amerika karena berperang melawan kekuasaan komunis (Uni Soviet) di Afganistan, namun setelah perang dingin berakhir, bin Laden dijadikan musuh nomor satu Amerika, bahkan dijadikan sebagai bapak terorisme dunia dan musuh bersama (common enemy). ¬
Dulu untuk melakukan komunikasi jarak jauh bisa diefektifkan dengan surat. Sekarang dengan hitungan detik, suara dari belahan dunia lain bisa sampe belahan dunia lainnya. Bukan hanya itu, bentuk kiriman surat pun sekarang nggak usah berlama-lama, cukup dengan memanfaatkan layana internet, kita bisa dengan leluasa mengirim kepada siapa pun.

Itulah jasa yang diberikan dari buah karya teknologi. Teknologi telah mengubah segalanya. Mengubah mobilitas manusia, jangkauan, wawasan, cara berkomunikasi, memimpin, mengelola perusahaan sampe cara belajar.

Namun seiring dengan kontribusinya terhadap perkembangan umat manusia, teknologi memberikan dua dampak terhadap perubahan manusia. Pertama, kalo teknologi bisa dikelola dengan baik, ia akan memberikan kesejahteraan. Kedua, kalo teknologi nggak bisa dikelola dengan baik, ia bisa berubah menjadi ancaman yang menakutkan. Bisa-bisa tatanan kehidupan yang singernis pun berubah menjadi perusakan-perusakan.
Begitu banyak perubahan yang terjadi di sekelilingmu. Secara langsung atau nggak, kamu akan terimbas dari laju perubahan ini. Walhasil, banyak pilihan yang diberikan oleh perubahan itu: BERUBAH, DIAM, MELAWAN, atau DIUBAH.

Berubah berarti kamu sendiri yang sadar untuk melakukan perubahan. Diam berarti kamu masa bodoh terhadap perubahan yang ada. Melawan berarti kamu melakukan perlawanan atas perubahan yang terjadi karena nggak suka atau berbeda dengan yang kamu harapkan. Diubah berarti kamu terlindas arus perubahan, diubah oleh perubahan karena nggak bisa berbuat apa-apa. Nah, selanjutnya tinggal kamu sendiri yang menentukan mau pilih yang mana, berubah, diam, melawan, atau diubah?
Sebagai bekal kamu dalam menentukan pilihan dari perubahan, ikuti beberapa contoh lanjutan dari pembahasan perubahan berikut ini.
Pada tahun 1992, Bill Clinton terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat berkat pesan-pesan komunikasinya yang berbunyi bak magic aja, change! Pada 2004, mantan Menko Polkam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, juga terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia berkat tema yang sama dengan Bill Clinton, yaitu perubahan!
Tetapi, tahukah kamu kalo mengelola perubahan itu nggak mudah?
Banyak orang yang melakukan perubahan dan berhasil. Tetapi nggak sedikit pula yang gagal dan gulung tikar. Namun, seperti itulah hidup. Demikian tulis Rhenald Kasali dalam bukunya Change.
Kehidupan selalu ditandai dengan perubahan. Andaikan kamu terdampar di sebuah pulau terpencil dan sunyi, apa yang akan kamu tandai sebagai adanya kehidupan? Akan ada perubahan dalam diri kamu agar kamu tetap survive di tengah hutan atau di pesisir pantai. Misalnya, dengan membiasakan diri makan dedauan atau ikan yang langsung kamu tangkap dari laut.
Hari ini ramai sekali, besok sepi dan senyap sekali. Perbedaan suasana itu merupakan perubahan yang berarti menandakan adanya kehidupan yang dinamis.
Manusia yang hidup akan selalu berubah. Hari ini ia adalah seorang bayi yang hidupnya bergantung pada orang lain. Esok ia adalah makhluk kecil yang belajar berjalan dan sesekali jatuh, lalu berlari dengan kedua kakinya. Setelah itu, ia menjadi makhluk dewasa yang menghadapi bermacam-macam persoalan, kadang senang dan tertawa lebar, kadang sedih dan menangis.
Itulah kenyataan yang senantiasa menyertaimu. Mau nggak mau kamu harus sadar, kehidupan itu akan dan terus berubah. Lagi pula kalo hidupmu nggak berubah, kamu akan kesal, marah karena bosan dengan kehidupan yang ada atau yang sedang kamu jalani. Misalnya, kamu terus-terusan miskin, nggak naik kelas, menjadi objek penderita atas ejekan temanmu, de es te.
Seperti ungkapan Evelyn Waugh, change is the only evidence of life. Dengan kata lain, perubahan merupakan kisah nyata yang akan menjadi nostalgiamu di usia senja.
Itulah perubahan kehidupan. Dari kehidupan yang relatif terkendali menjadi kehidupan yang relatif bebas, bahkan cenderung menjadi sangat dinamis. Lingkungan baru itu begitu bergejolak, juga yang menjanjikan perubahan tentu memberikan harapan dalam bentuk impian kehidupan yang lebih baik.
Meski perubahan dinantikan dan menjanjikan kehidupan baru, ternyata nggak semua perubahan membawa hasil seperti yang diharapkan, bergantung pada diri masing-masing yang mau mengubah, atau seberapa kuat kemampuan mengubah dirinya. Betul apa yang dikatakan Charles Darwin, bukan yang terkuat yang mampu berumur panjang, melainkan mereka yang selalu dan paling bisa menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan.
Sampe di sini mungkin kamu bertanya-tanya, haruskah kamu mengintervensi perubahan? Atau bisakah perubahan bergerak dan terjadi dengan sendirinya?
Meskipun sekali terjadi dalam hidupmu, kamu akan mengalami sebuah hukum alam yang sangat dahsyat, yaitu krisis. Ada dua krisis yang terjadi di dunia ini, yaitu krisis kecil dan krisis besar.
Krisis kecil itu krisis yang diberikan Allah swt. kepada manusia agar manusia belajar dan segera berbenah. Tetapi krisis kecil ini relatif dapat dengan mudah diatasi. Sebut aja kamu kehilangan sepatu, atau buku kesayanganmu akibat kamu sembarang menyimpannya.
Sementara krisis besar adalah krisis yang berdampak sangat luas terhadap banyak hal, bahkan bisa membuat kamu yang sedang sehat masuk unit gawat darurat. Bisa dibilang krisis ini memakan korban, kehilangan rasa percaya diri, kehilangan tempat tinggal, atau kehilangan orang tersayang.
Sebenarnya perubahan besar itu nggak terjadi dengan tiba-tiba, tapi sebelumnya telah mengirim sinyal-sinyal. Kalo kamu sigap, sinyal-sinyal itu bisa dijadikan momen untuk membuat persiapan menghadapi perubahan besar tersebut.
Idealnya emang bisa dan mampu berubah sendiri tanpa harus mengalami sebuah proses perubahan yang diintervensi dari luar, namun syarat untuk berubah sendiri adalah belajar, dan semua orang yang berada di muka bumi ini adalah manusia-manusia pembelajar.
Gimana, kamu ngerasa nggak jadi manusia pembelajar? Yang senantiasa reaktif, bukan proaktif, terhadap pengembangan diri dan terus melakukan perubahan-perubahan demi perbaikan diri.
Emang bener apa yang dikatakan John F. Kennedy, change is the law of life. Namun sebelum perubahan dijadikan sebagai hukum kehidupan, kamu harus sadar dengan ketentuan-ketentuan hukum alam yang nggak bisa kamu lawan. Oleh karenanya, ubah dulu cara pandangmu, terutama cara pandang terhadap perubahan, yang sangat penting bagi kemampuanmu dalam beradaptasi dan memakai perubahan itu untuk belajar dan memperbaiki diri.
Kalo mencari kehidupan yang lebih baik dari kehidupanmu sekarang, kamu harus membuat perubahan sendiri. Bukan terus-menerus menunggu sesuatu terjadi padamu. Harus kamu sadari, di dunia ini nggak ada yang berhasil tanpa usaha.
Kamu harus sigap dan menjadi pelopor dalam hal perubahan. Itu yang terpenting buat kamu. Bukannya hanya ketika ada perubahan, kamu serta merta ikut melebur dengannya. Nggak ubahnya bunglon yang adaptif ketika lingkungan sekitarnya berubah. Kamu harus berhenti mengikuti arus dan mulai mengejar impian dan tantangan kehidupan secara prinsipil.
Emang, untuk melakukan perubahan perlu keberanian yang besar, kendali diri, kesabaran, dan ketekunan karena secara emosional bisa melelahkan hingga kemampuan berpikirmu hilang dan visimu mengenai kehidupan yang lebih baik berantakan. Namun, itulah risiko yang harus dibayarkan.
Hanya dengan perubahan yang aku sebut dengan melepaskan diri dari penjara, bisa membuat dirimu maju, apapun bentuk penjaranya. Kalo nggak bisa melepaskan sesuatu, akan sulit untuk melakukan perubahan meskipun kamu sangat menginginkannya. Seperti ketika ingin pergi, kamu mencoba mengemudi dengan rem tangan terpasang. Otomatis kamu nggak akan pernah bisa pergi karena tertahan.
Aku melihat orang tua membantu anaknya belajar bermain sepeda di depan rumahnya. Anak kecil itu sering kali takut melepaskan pegangannya untuk mengayuh pedal sepeda agar bisa melaju. Tapi begitu dia bisa, dia langsung paham kalo ingin mengayuhkan pedal sepeda agar sepedanya maju, dia harus berani dan siap ngambil risiko, sambil kakinya berayun ke pedal meraih tahap demi tahap.
Setelah memahami prosesnya, dia dengan senang hati membuat perubahan yang diperlukan untuk maju. Sekarang, dia mengerti kalo perubahan bisa menjadi sesuatu yang bagus. Perubahan bisa memberikan apa yang diinginkan sesuai dengan cita-citamu.
Seperti kata Albert Einstein, “Masalah penting yang tengah kita hadapi tidak bisa dipecahkan dengan cara berpikir yang sama seperti saat kita menciptakan masalah itu.” Nah, tuh Einstein juga berpesan agar segera melakukan perubahan karena kamu nggak selalu bisa menemukan jawaban di dalam lingkunganmu yang sekarang. Terkadang, kamu harus membuat perubahan untuk menemukan jawabannya.
Kalo begitu, kenapa orang memperlakukan perubahan seolah sebuah penyakit yang mematikan? Emang sangat disayangkan bagi orang yang berpandangan dan berprinsip seperti itu. Mereka nggak menyadari kalo perubahan itu sesuatu yang pasti dan nggak bisa dihindari seperti juga perubahan usia manusia.
Kamu tahu kalo masyarakat kita selalu penuh perubahan. Perubahan mode pakaian, teknologi, maupun prinsip moral. Tampaknya perubahan semakin sering terjadi dari tahun ke tahun.
Pikirkan lagi, keadaan telah berubah dalam hidupmu selama beberapa tahun ke belakang. Perubahan itu bagaikan angin atau pusaran air yang kuat, yang nggak akan pernah berhenti, yang bisa mematahkan sampe mengangkat pepohonan atau bahkan bebatuan sekalipun.
Intinya: perubahan terjadi setiap saat, baik di dunia secara luas maupun dalam kehidupan pribadimu. Kamu yang mau beradaptasi dengan perubahan, menerima tantangan yang dibawa perubahan dan menerima perubahan, serta melihatnya sebagai sebuah kesempatan baru untuk tumbuh, akan menemukan kesuksesan karena tahu cara menangani perubahan.
Terkadang perubahan kecil dalam hidup bisa memicu perasaan yang kuat. Misalnya, suatu hari, saat kamu menuju ke sekolah, sepeda motormu mogok. Hal itu membuat perasaanmu nggak enak. Sepanjang minggu kamu harus pergi ke sekolah naik bus. So pasti dong, kamu nggak suka harus naik bus ke sekolah setelah merasakan enaknya naik motor sendiri.
Atau saat liburan panjang, sahabatmu pergi berkemah atau berlibur, sedang kamu nggak. Tiba-tiba rutinitas sehari-harimu terasa sangat membebani. Kamu menggerutu dan berwajah muram. Kamu mendadak kebingungan, pikiran jadi buntu, nggak tahu mesti ngapain.
Perubahan besar memicu perasaan dan emosi yang lebih kuat. Orang tuamu bercerai, kakak perempuanmu melahirkan, ayahmu kehilangan pekerjaan, keponakanmu yang masih kecil meninggal dunia. Masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lainnya yang belum terjadi, yang bisa mengajakmu untuk berubah.
Peristiwa atau kejadian yang menimpa secara tiba-tiba atau nggak terduga, secara otomatis akan membawamu menuju perasaan kuat yang mungkin mengganggu kemampuanmu dalam mengontrol emosi.
Bahkan, perubahan yang kalo dilihat dari luar tampak positif, seperti pindah rumah, selepas SMA meneruskan kuliah di universitas terkenal, dapat menimbulkan perasaan sedih dan bingung akibat meninggalkan lingkungan lama.
Meski rumah baru dan kampus yang hebat lebih nyaman dan membanggakan, kepuasan pindah bisa terkalahkan dengan perasaan-perasaan sedih, terutama bila kepindahan itu nggak disiapkan sebelumnya. Itulah bentuk-bentuk perasaan yang nggak siap dengan perubahan karena terbiasa dengan kondisi lama yang stagnan.
Perasaan-perasaan yang nggak terduga seperti itu bisa membuat kamu menolak perubahan meskipun perubahan yang positif. Terkecuali kamu sadar dan mulai belajar menanganinya. Itulah repons terhadap perubahan yang harus segera kamu atur.
Terkadang, perubahan disekitarmu terjadi secara tiba-tiba. Nggak dihendaki atau direncanakan. Begitu juga dengan perasaan-perasaanmu yang menyertai perubahannya.
Sebuah kondisi yang dilematis dirasakan manusia saat terjadi perubahan. Terlebih dengan perubahan yang nggak diharapkan, sementara perubahan yang diharapkan nggak juga berubah.
Oleh karenanya, sering kali terjadi kesalahpahaman dalam mempersepsikan perubahan. Perubahan kebanyakan dipahami orang sebagai sesuatu yang aneh. Makanya, jangan heran kalo ada sebagian orang—malah kebanyakan orang—cenderung menolak dan takut terhadap perubahan. Tetapi anehnya, kebanyakan juga nggak merasa puas dengan kondisi status quo yang dialaminya. Sesuatu yang tampaknya bertolak belakang.
Alangkah baiknya kalo kamu pahami kata-kata berikut ini:

“Orang-orang takut terhadap perubahan yang kurang bisa atau bahkan sama sekali nggak bisa mereka kontrol. Perubahan yang nggak mereka inginkan, yang memunculkan ketidakpastian tingkat tinggi. Inilah ketakutan-ketakutan yang memaksa kamu menerima ketidaknyamanan yang kamu rasakan sendiri, daripada beralih ke sesuatu kondisi yang belum pasti.”

Itulah kata-kata yang dilontarkan Hamlet ketika beliau memahami kata perubahan. Begitu susah diterimanya perubahan. Namun ketika kondisi yang sedang dijalaninya nggak membahagiakan, kamu pasti ingin sekali berubah. Namun jika telah terjadi perubahan, dan ternyata lebih buruk dari kondisi sebelumnya, kamu merindukan kondisi sebelumnya.
Untuk mengobati rasa khawatirmu akan perubahan yang senantiasa melanda, kamu ingat-ingat pesan dari surah Al-Baqarah ayat 216, ... boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
Sadarilah dan yakinlah, perubahan yang terjadi padamu itu adalah sesuatu yang baik buat kamu.

Membetulkan Cara Berpikir
Sangat mungkin kalo perubahan itu terjadi karena adanya kesalahan dalam berpikir, dari berpikir yang bener menjadi salah. Kalo cara berpikirnya aja udah salah ,gimana kamu akan mengadakan perubahan yang bener dan tepat. Di antara temanmu bahkan kamu sendiri, sering membuat sebuah pernyataan berdasarkan beberapa pernyataan atau bukti sebelumnya, yang sebetulnya secara keilmuan, itu salah.
Bener apa yang dikatakan Jalaluddin Rakhmat, dalam bukunya Rekayasas Sosial: Reformasi atau Revolusi, yang namanya logika berpikir orang itu masih banyak salahnya dibanding benernya. Kalo mau bicara logika secara bener omongannya itu salah, namun kalo asal ngomong aja itu sih, sah-sah aja.
Banyak orang, dari yang muda sampe yang tua, dari yang intelek sampe yang kurang melek, atau mungkin di antara teman-temanmu yang katanya sedang melakukan perubahan, sebenarnya mereka sedang atau telah jatuh pada intellectual culdesac (kesalahan berpikir).
Lebih rinci, Kang Jalal menjelaskan beberapa istilah yang termasuk dalam kategori intellectual culdesacs. Pertama, fallacy of dramatic instance. Kesalahan berpikir ini berawal dari kecenderungan orang untuk menggunakan satu-dua contoh guna mendukung argumen yang dikemukakannya (over generalization).
Argumen yang sifatnya over generalized biasanya agak sulit dipatahkan karena kasus rujukan itu seringkali diambil dari pengalaman pribadi seseorang (individual’s personal experience). Pengalaman itu kan bener-bener terjadi atau ada bukti, nggak sebatas ngarang atau argumennya begitu aja.
Misalnya, di antara teman-temanmu yang ikut seleksi masuk perguruan tinggi A favorit di kotamu, nggak ada seorang pun yang lolos. Menurut informasi yang kamu dapat dari pihak sekolah dan juga dari teman-temanmu, belum ada satu pun lulusan sekolahmu yang lolos masuk ke perguruan tinggi A, padahal mereka dikategorikan anak yang rajin dan pinter.
Melihat kondisi seperti itu, kamu pun ikut dengan kebenaran umum bahwa nggak akan ada yang bisa menembus perguruan tinggi A, termasuk juga kamu yang kemampuannya di bawah mereka yang gagal duluan untuk ikutan seleksi.
Kesimpulan kamu itu termasuk dalam kesalahan berpikir. Kalo aja kamu berani mencoba ikut seleksi meskipun kamu nggak termasuk anak yang rajin dan pandai, siapa tahu kamu masuk. Nasib orang kan nggak ada yang tahu!
Untuk menolak atau melawan kesalahan berpikir ini, kamu dapat dengan mudah mengambil contoh atau merujuk bukti-bukti yang sebaliknya, dan menggeneralisasikannya pula seperti yang kamu lakukan tadi.
Misalnya, banyak orang yang di sekolahnya biasa-biasa, nggak rajin dan nggak pandai, masuk perguruan tinggi favorit. Si A bodoh dan sekarang kuliah di perguruan tinggi X yang hebat. Si B yang dulunya suka bolos, sekarang kuliah di perguruan tinggi B yang terkenal. Akhirnya, kamu pun bisa menyimpulkan berarti kalo gitu orang biasa pun bisa lolos untuk kuliah.
Kedua, fallacy of retrospective determinism. Istilah yang kedua ini menjelaskan kebiasaan orang yang selalu menganggap setiap masalah yang sekarang dihadapinya terjadi sebagai sesuatu yang secara historis emang ada masalah. Cara berpikir ini selalu mengambil acuan kembali ke belakang atau historis ketika hendak mengambil sebuah kesimpulan. Misalnya, ada suatu masalah kenakalan remaja (juvenille deliquency), tawuran atau menjadi pecandu narkoba. Sebagian orang akan mengatakan, “Mengapa kenakalan remaja itu harus dilarang? Sepanjang sejarah, kenakalan remaja itu udah ada dan nggak bisa diatasi. Oleh karena itu, yang harus dilakukan bukan menghilangkan kenakalan remaja, melainkan membinanya agar sadar akan akibat dari yang dilakukannya.
Contoh lainnya adalah kebodohan. Kamu yang berpendirian seperti ini akan mengatakan, kebodohan udah ada sepanjang sejarah. Dari dulu ada orang yang pintar dan bodoh. Mengapa orang sekarang mesti ribut-ribut memerantas kebodohan, padahal kebodohan nggak bisa diberantas, udah ada sejak dulunya. Inilah kesalahan berpikir yang kedua, yang juga sering kamu lakukan.
Ketiga, post hoc ergo propter hoc. Istilah ini diambil bahasa Latin, post artinya sesudah, hoc artinya demikian, ergo artinya karena itu; propter artinya disebabkan, dan hoc artinya demikian. Singkatnya, sesudah itu oleh -- karena itu -- sebab itu. Rumit ya?
Jadi gini, apabila ada beberapa peristiwa yang terjadi secara berurutan, peristiwa pertama dinyatakan sebagai penyebab terjadinya peristiwa kedua.
Bentuk kesalahan ini sering sekali kamu lakukan tanpa kamu sadari, bahkan terjadi berulang-ulang. Misalnya, kamu menulis surat cinta dengan pulpen barumu kepada orang yang sedang kamu incar. Ternyata, dia pun menyambut pernyataan cintamu.
Kemudian, kamu menggunakan pulpen yang sama untuk mengerjakan soal ujian. Kamu pun lulus dengan nilai yang memuaskan. Di akhir bulan kamu kehabisan uang, lalu kamu menulis surat pada orang tua dengan pulpen itu juga. Nggak lama kemudian, orang tuamu mengirim sejumlah uang.
Berdasarkan keberhasilan-keberhasilan tersebut, akhirnya kamu pun sangat mencintai pulpen itu. “Ini pulpen bukan sembarang pulpen,” demikian kamu meyakini keampuhan dari pulpen karena telah mendatangkan keberuntungan.
Keempat, fallacy of misplaced concretness. Kesalahan berpikir dalam mengkonkretkan sesuatu yang pada hakikatnya abstrak. Misalnya, mengapa kekuatan orang Islam kalah ama Barat atau Eropa (nonMuslim)? Mengapa begitu banyak orang yang mengaku Islam namun nggak berperilaku selayaknya orang yang beragama Islam? Lalu ada orang yang memberikan jawaban, umat Islam lemah karena terlalu percaya takdir.
Dalam istilah logika (istilah lainnya adalah ilmu mantik), kesalahan seperti di atas disebut reification, yaitu menganggap sesuatu itu riil, padahal sebetulnya hanya berada dalam pikiran kita. Misalnya, dari mana kita bisa memulai pembenahan kebodohan itu? Kita nggak tahu. Yang jelas, kebodohan disebabkan oleh pemerintahan yang salah, titik.
Kelima, argumentum ad verecundian. Kesalahan berpikir ini akan terlihat ketika kamu berargumen atau berpendapat untuk mempertahankan posisi, meraih tujuan dengan menggunakan otoritas walaupun otoritas itu nggak relevan atau ambigu.
Sebenarnya, otoritas itu adalah sesuatu atau seseorang yang udah diterima kebenarannya secara mutlak, seperti Al-Quran, Rasulullah saw., dan nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Sering kali orang menggunakan kapasitas jabatannya untuk meraih atau mendapatkan apa yang menjadi tujuannya, misalnya dengan mengutip peristiwa atau kejadian sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Quran atau dalam sirah (perjalanan) Nabi. Padahal, peristiwa yang dikutipnya itu belum tentu relevan dengan masalah atau tema yang sedang diperbincangkan. Ia tafsirkan, kemudian ia kait-kaitkan dengan maksudnya agar orang lain percaya. Kalo udah percaya dengan omongannya, orang lain itu akan mendukungnya.
Kamu lihat aja perlakuan para praktisi politik ketika membahas sebuah persoalan. Mereka yang berangkat dari partai keislaman sering kali menafsirkan beberapa ayat atau hadis. Coba kamu cek ke sumber utama yang mereka rujuk dan tafsirkan sendiri. Akan terasa perbedaan dalam menafsirkannya.
Justru dengan melakukan pembenaran dalam pengutipan ini, akan muncul persoalan baru karena penafsiran setiap orang akan berbeda-beda. Itulah yang dimaksudkan dengan otoritas yang ambigu atau taksa.
Keenam, fallacy of composition. Dugaan bahwa sebuah kegiatan atau usaha yang berhasil untuk satu orang, pasti juga berhasil untuk semua orang. Contohnya:

Di sebuah desa ada seorang ulama yang terkenal kesalehan dan kesopanannya. Di desa itu dia tergolong orang hebat karena belum ada orang yang pendidikan agamanya setinggi dengannya. Selepas mondok, ia pulang kampung dan fokus mengamalkan pendidikan agama yang dikuasainya karena sejak kecil dia sangat memimpikan menjadi ulama yang didengar omongannya oleh masyarakat.
Pengorbanannya terhadap Islam luar biasa. Begitu diberi mandat oleh penduduk setempat, dia sering ceramah di desanya bahkan sampe ke luar desa segala. Mulai dari masjid RT, masjid RW, masjid kelurahan atau desa sampe masjid kecamatan. Ia berjuang habis-habisan untuk syiar Islam dan memberikan contoh teladan manusia Islam yang baik.
Kemudian para penduduk desa tersebut memuji dan mendambakan figur-figur orang sepertinya. Bahkan, sebagian besar penduduknya berkesimpulan kalau semua orang dididik seperti dia untuk dijadikan ulama maka kampung ini akan damai, tenteram dan suasana religiusnya terasa.

Nah, kesimpulan yang dilakukan sebagian besar penduduk itu merupakan kesalahan berpikir jenis ini. Betapa repotnya kalo semua warga desa itu jadi ulama. Siapa yang menjadi pendengarnya? Karena biasanya, ulama nggak mau mendengar, tapi maunya didengar. Juga, nggak ada tantangan bagi ulamanya karena semua orang udah merasa paling bener dan paling bertakwa.
Ketujuh, circular reasoning. Artinya, pemikiran yang berputar-putar. Kesalahan berpikir ini terjadi, misalnya ketika menyatakan sesuatu, kamu menggunakan kesimpulan (conclution) pertama yang dibuat untuk mendukung asumsi yang kedua, kemudian membuat kesimpulan baru, dan begitu seterusnya.
Misalnya, terjadi perdebatan di antara para pengamat dan pengurus olahraga mengenai rendahnya prestasi para atlet di Sea Games. Pengamat membuktikannya dengan membandingkan jumlah atlet yang sering ikut ajang kejuaraan dari berbagai level. Hasilnya, makin tinggi tingkat kejuaraan yang diikuti dengan banyak peserta, makin menurun kualitasnya. Padahal di tingkat domestik, para atlet ini banyak sekali bermunculan sebagai bibit-bibit unggul, ungkap pengurus atlet. Maka kesimpulannya, para atlet Indonesia menempati posisi atlet yang rendah.
Itulah tujuh kesalahan berpikir yang sering kita lakukan. Ternyata, selain kesalahan berpikir yang seringkali memengaruhi perubahan mimpimu, ada lagi bentuk kesalahan yang lain, yaitu mitos. Gimana, apa kamu selaku orang modern masih percaya dengan mitos?
Ada dua mitos yang kuat pengaruhnya terhadap perubahan. Bahkan saking hebatnya mitos ini, kamu pun seolah-olah meyakininya bukan sebagai mitos, melainkan sebagai sebuah kebenaran yang sudah turun temurun sejak dulu.
Pertama, mitos deviant. Mitos ini berawal dari pandangan atau anggapan yang akhirnya diyakini. Misalnya, kita atau orang itu cenderung stabil, statis, dan nggak berubah-ubah. Kalo pun terjadi perubahan, perubahan itu adalah penyimpangan dari sesuatu yang stabil.
Pada mulanya mitos ini berkembang dari ilmu sosial yang disebut dengan structural functionalism (fungsionalisme struktural). Menurut teori ini, kalo mau melihat perubahan — terutama perubahan sosial — kamu harus mau melihat struktur dan fungsi masyarakat.
Kedua, mitos trauma. Mitos ini mengatakan, perubahan menimbulkan krisis emosional dan stres mental. Jadi, dalam mitos ini orang atau masyarakat akan menolak atau melakukan perubahan jika muncul hal-hal berikut: diduga atau dipersepsi mengancam basic security, akan menambah ketidakpastian, akan memunculkan adanya paksaan, dianggap bertabrakan dengan nilai atau norma yang lebih tinggi, nggak sesuai dengan kalkulasi rasional atau cost benefit ratio, dan terakhir lebih banyak mengeluarkan biaya daripada benefit-nya.
Menurutmu sendiri gimana perubahan itu? Silakan pikirkan dengan membenarkan dulu cara berpikirmu, sehingga kamu nggak asal menyimpulkan dan jangan sampe percaya ama mitos.

Sabar !
Seperti yang udah kamu ketahui tadi, menguasai perubahan itu sangat penting bagi proses sukses menggapai semua mimpimu. Mudah-mudahan kamu tercerahkan dengan dibenarkannya pola atau cara berpikirmu.
Namun ada hal lain selain kamu mengubah cara berpikir ketika memandang sesuatu yang terjadi atau akan kamu hadapi, yaitu sabar. Sering kan, kamu mendapatkan nasihat atau kata-kata seperti ini? Ya, emang bener pepatah orang tua, sabar adalah senjata ampuh meredam segala kegundahan, masalah, dan lain sebagainya.
Dalam konteks perubahan, sabar adalah sebuah kemampuan utama yang diperlukan untuk menguasai perubahan. Kalo dalam sebuah kendaraan, kesabaran itu ibarat spidometer atau alat pengukur kecepatan. Ketika kamu menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi, jarum spidometer menunjuk ke arah kecepatan yang lebih tinggi. Begitu pun sebaliknya, ketika dalam kecepatan rendah, jarum spidometer menunjuk ke arah kecepatan yang rendah.
Dalam tubuh kita atau tubuh hewan ada pengendalinya. Coba aja kamu rasakan kalo suhu badanmu yang senantiasa berubah-ubah. Ketika suhu lingkungan sekitar dingin, suhu badanmu akan terasa hangat atau memanas, padahal kamu dalam kondisi yang sehat. Juga ketika musim kemarau, secara otomatis badan kita akan membuat penyeimbangnya dengan mendinginkan suhu badan.
Posisi sabar di sini bisa dipahami sebagai penyeimbang hidup. Ketika kamu sangat mendambakan menjadi juara kelas atau bintang lapangan, kamu nggak akan bisa dalam waktu sekejap menjadi juara kelas atau bintang lapangan. Kamu harus ekstra sabar untuk mendapatkannya. Latihan rutin setiap hari, kemudian uji tanding sebagai parameter kemajuanmu.
Sebenarnya, kamu udah mendapatkan ilmu kesabaran sejak lahir. Bukalah kesadaranmu bahwa kamu ketika dilahirka nggak bisa ngomong, nggak bisa pake baju sendiri, nggak bisa jalan, dan macam-macam.
Hal samapun ketika kamu mulai sekolah, nggak bisa dong kamu harus menerima atau langsung ke perguruan tinggi. Namun kamu harus melewati fase-fase jenjang pendidikan yang membutuhkan kesabaranmu. Namun, pada kenyataannya nggak semua orang sukses melatih kesabarannya.
Melihat beberapa contoh kasus tadi, rupanya kamu nggak bisa mempercepat perubahan, kamu harus membiarkan perubahan terjadi sealami mungkin. Emang susah untuk mempraktikkannya karena keinginan itu sangat instan. Keinginan terkadang susah untuk dikendalikan. Hanya orang-orang tertentulah yang bisa mengendalikan keinginan, yaitu orang yang udah terbiasa me-manage kesabarannya. Seperti yang diungkapkan Stedman Graham, kesabaran adalah sifat yang sangat sulit dimiliki banyak orang.
Kamu nggak bisa mengambil jalan pintas dalam proses perubahan. Kamu harus mengantisipasi kalo perubahan itu akan terjadi juga pada dirimu dan kamu harus beradaptasi dengannya. Orang yang nggak sabaran akan menyerah sebelum bisa menarik manfaat dari perubahan itu.
Kalo nggak bisa membendung kesabaran, kamu akan melewati begitu banyak derita tanpa ada hasil karena kalo keinginanmu yang sebagian besar hanya nafsu belaka nggak diseimbangkan dengan kesabaran, akan terus-menerus menuntutmu untuk dipenuhi. Oleh karenanya, dalam proses pemenuhan ini sering kali mencari jalan pintas, jalan yang instan, langsung jadi.
Hal ini sangat riskan dan bumerang bagi kamu sendiri karena kalo nggak tercapai dengan jalan pintas bisa membuatmu lelah, akhirnya staminamu terkuras. Kamu sudah menyerah sebelum mencapai cita-cita. Udah bisa dipastikan kalo mengambil jalan ini, kamu akan terbentur dan tersandung selama perjalanan. Di sinilah perlunya senjata kesabaran.
Anggap aja kamu akan bermain dalam sebuah band dengan beberapa temanmu, tapi kamu nggak bisa memainkan satu alat musik pun. Sementara kalo nggak bisa, kamu bakal ditinggalkan teman-temanmu.
Untuk mengatasinya, kamu pun harus keras berlatih alat musik. Kamu harus mengubah kegiatan sehari-harimu karena kamu perlu berlatih setiap hari. Namun begitu semangat memainkan alat musik memudar, dan latihannya mulai merasuki pikiranmu, semua itu nggak akan mudah lewati. Tapi kalo punya tingkat kesabaran yang tinggi, kamu akan mengambil keputusan, “Ya, aku akan latihan terus biar teman-temanku mengajakku bermain band.”
Bagi kamu yang udah bisa main gitar, ingat bagaimana minggu-minggu dan bulan-bulan pertama kamu belajar gitar? Ujung jarimu begitu sakit hingga terluka dan berdarah. Kalo belajar main gitar dan udah menyerah hanya beberapa minggu, kamu menyia-nyiakan jemarimu yang terluka serta waktu yang kamu habiskan untuk latihan. Mungkin kamu nggak pernah menyadari betapa banyak simpul kesabaran di tempat-tempat kamu beraktivitas!
Sabar! Budaya kita kurang menekankan kesabaran. Kita ingin, apa yang kita mau dan kita menginginkan, terkabul hari ini, bukan besok. Kehebatan teknologi yang kamu nikmati sekarang ini sebagian merupakan anugerah dan sebagian lagi kutukan.
Kamu makin terbiasa melakukan segala sesuatu dengan mudah dan cepat. Oven microwave, remote control untuk televisi, peralatan elektronik lain, dan internet merupakan sedikit contoh upaya mempercepat proses memperoleh apa yang kamu inginkan.
Nyuci pakaian bisa sambil baca atau mengerjakan pekerjaan yang lainnya karena sekarang udah ada mesin cuci. Kamu menonton TV dan memindah-mindahkan channel hanya sambil duduk jauh dari TV karena udah ada remote control. Kamu kegerahan di dalam ruangan, kamu tinggal tekan tombol-tombol tertentu, dan kamu pun seketika merasa adem dengan AC ruangan. Kecanggihan-kecanggihan teknologi bisa membuat kamu lemah secara alami, terutama dalam melatih kesabaran.
Pantas banyak orang harus berjuang untuk sabar. Kamu ingin pemecahan masalah dan hasil yang kilat, tapi jarang yang mau memberikan waktu atau energi untuk mendapat pemecahan dan hasil itu.
Hal senadapun dengan perubahan, jangan mau mengadakan perubahan yang instan, maka hasilnya pun akan kualitas instan. Segala sesuatunya mudah luntur dan nggak sepermanen.
Kalo kamu ingin selangkah lebih maju dari kebanyakan orang dalam melakukan perubahan dan memanfaatkannya untuk kepentinganmu, berlatihlah sabar. Banyak sekali hikmah dan manfaat yang bisa kamu ambil dari bersabar itu.
Sebagaimana diyakinkan Allah Swt. dalam surah az-zumar tepatnya ayat 10 ... Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. Apa kamu nggak tertarik dengan tawaran yang diberikan-Nya jika kamu bersabar?
Nggak ada tawaran lagi, sabar bisa mengantarkanmu ke jenjang yang membahagiakan. Coba kamu buka lagi Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 153, Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Jangan terlalu cepat menilai perubahan atau menyerah pada perubahan (atau pada dirimu sendiri). Hal baik nggak selalu datang cepat. Beberapa perubahan perlu waktu. Beri dia waktu yang diperlukannya dan mungkin kamu akan terkejut – dan senang – dengan hasilnya.

Menemukan Kreativitas
Salah satu tugas tersulit lainnya yang harus dihadapi oleh seorang pemimpi adalah mempertahankan kreativitasnya. Semua pemimpi pasti pernah terluka karena kehilangan, misalnya kehilangan harapan, kehilangan kepercayaan diri.
Kehilangan akan membuat kamu terluka, dan lukanya nggak akan hilang sampe kapan pun, bahkan sampe kamu meninggalkan alam dunia. Kamu hanya bisa menyembunyikan atau memendamnya dalam-dalam dari perasaan sensitifmu.
Luka ini merupakan bahaya. Dalam banyak kasus, tanda-tanda dari bahaya ini bisa menjadi inspirasi yang akhirnya sebagai penunjuk jalan untuk menemukan cara menutupi atau menyembuhkannya. Nah, proses ‘penemuan cara’ itulah yang berarti kreativitas. Terlebih jika kamu cepat dalam menyembuhkan lukamu, dan kemudian mengubah mimpimu. Dengan demikian, banyak luka akan makin banyak kreativitas, daya kreativitasmu bertambah kuat.
Sebagaimana dikatakan para pakar kesehatan mental, untuk berhasil melewati dan rasa kehilangan, kamu harus mengakuinya dan kemudian mengungkapkannya.
Karena jarang diungkapkan secara terbuka, kehilangan kreativitas ini tumbuh jadi jaringan bekas luka yang menghambat perkembanganmu. Proses mengungkapkan kemudian menyembuhkan luka-luka ini, dianggap sesuatu yang sangat menyakitkan, bodoh, dan memalukan. Namun, perlu kamu lakukan agar kamu bisa mengubah diri dan lama-lama kamu bisa membangun mimpimu.
Kreativitas adalah sebuah praktik spiritual. Kreativitas bukanlah sesuatu yang dapat disempurnakan, dirampungkan, dan disisihkan. Pengalamanku menunjukkan bahwa kamu mencapai puncak kreativitas hanya untuk merasa gelisah kembali. Ya, kamu berhasil, ya kamu telah mencapainya, tetapi ada yang kurang inilah, itulah. Perasaan seperti ini normal sebagai seorang yang rindu akan sesuatu yang baru. Itulah ciri seorang kreator ketika berkarya, selalu mencari dan mencari sesuatu yang lebih beda dan baru.
Atau ketika kamu sampe di puncak kreativitasmu, puncak dengan sendirinya akan terasa lenyap karena nggak puas dengan prestasi-prestasi kamu. Betapapun tingginya, kamu sekali lagi berhadapan dengan diri kreatifmu yang lapar.
Pernyataan-pertanyaan kini udah kamu dapatkan jawabannya, akan muncul lagi pertanyaan-pertanyaan baru: Apa yang akan kamu lakukan sekarang ... besok ... lusa dan seterusnya?
Perasaan belum selesai ini, kegelisahan, keinginan untuk mengeksplorasi lebih lanjut, mengujimu terus. Kamu didorong untuk berkembang terus tanpa hentinya agar dirimu nggak menderita. Penghindaran atas komitmen ini – yang menggodamu semua – mengarah lansung pada stagnasi, ketidakpuasan, ketidaknyamanan spiritual.
Dalam kondisi seperti ini, muncul pertanyaan dalam benakmu, “Bolehkan saya istirahat? Pilihan sederhana atau jawaban mudahnya, kamu dapat memaksa diri kamu sendiri untuk merasa puas atas keberhasilan-keberhasilan yang kamu peroleh. Atau kamu cari keberhasilan barumu agar bertambah puas.
Namun kalo nggak bisa mengendalikan atau mengontrolnya, kamu merasa diri puas dan berhenti untuk berkreatif. Bahkan, bisa jadi ketika udah merasa puas, kamu akan bangga, akhirnya kamu lupa, ada hal lain yang lebih dari kamu miliki saat ini.
Oleh karenanya, teruslah berkreativitas, jangan berhenti karena bisa membuat kamu lebih hidup dan maju. Kita pahami apa yang dikatakan Julia Cameron dan Mark Bryan, syarat pokok untuk mempertahankan hidup kreatif adalah kerendahan hati untuk mulai berkarya lagi, memulai sesuatu yang baru.
Kerendahan hati ini adalah kesediaan untuk sekali lagi menjadi seorang pemula yang sedang meniti karier. Seorang teman yang sangat ahli di bidangnya, merasakan masa-masa yang nggak nyaman sebelum mencapai keberhasilan berikutnya. Seperti itulah perasaanmu ketika kamu telah mencapai mimpimu. juga biar kamu terhindar dari anggapan sombong atau angkuh.
Allah swt. juga menghendaki agar kamu jangan berhenti untuk berkreasi. Firman-Nya yang ngebahas kreativitas terangkum dalam surah Alam Nasyrah [94] ayat tujuh: Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.
Kreativitas bukanlah sebuah bisnis meskipun dapat melahirkan peluang-peluang bisnis. Kamu bisa aja nggak meniru keberhasilanmu sebelumnya. Banyak orang yang terlalu sering mengikuti formula buatannya, akhirnya dia tersingkir dari kebenaran-kebenaran penemuan kreatif yang lain, yang lebih baru.
Untuk mempertahankan kualitas kreativitas, kamu bisa memiliki brand atau merek. Brand ini bisa membuat karakter diri kamu tampil secara berbeda atau unik. Langkah seperti inilah yang dilakukan di setiap perusahaan-perusahaan atau para aktris ngetop sekalipun. Mencari sesuatu yang berbeda sebagai brand. Itulah yang akan memperkuat citra di mata orang lain. Proses seperti ini, menurut Hermawan Kartajaya disebut sebagai diferensiasi. Diferensiasi itu menemukan keunikan diri.
Nah, sebelum tiba pada proses diferensiasi, Hermawan Kertajaya menganjurkan agar kamu punya sikap atau secara berani mau dan mampu merumuskan diri terlebih dahulu. Setelah selesai merumuskan diri, kamu juga harus punya kejelian menempatkan rumusan diri kamu sehingga letaknya tepat di tengah masyarakat. Inilah tahap awal nan penting yang dinamai positioning atau memosisikan diri pada sesuatu yang berbeda. Ingat lagi kata-kata berbedanya!
Pertanyaannya, apakah ketiga langkah yang mengarah pada kepemilikan brand itu dapat dilalui dalam waktu singkat dan tanpa usaha nyata? Aku nggak ingin menjawab pertanyaan ini di sini. Aku ingin kamu sendiri yang mencarinya dan menentukannya. Sampe akhirnya kamu bisa menemukan kreativitasmu sendiri.

Senin, 05 Juli 2010

KOMUNIKASI RASULULLAH

KUTIPAN BUKU "KOMUNIKASI RASULULAH"
Penulis : THORIK GUNARA
Harga : 22.000

Ada 2 tipe orang yang membicarakan kebaikan diri dan orang lain
1. Barangsiapa yang mengangkat seseorang dalam keadaan sum'ah (ingin di dengar) dan riya' (ingin dilihat), yakni orang yang memunculkan orang lain sebagai orang baik dan bertakwa, agar orang banyak percaya kepadanya, menolong dan membantunya sehingga dia dapat memperoleh harta dan kehormatan dengannya.
Allah akan menetapkannya sebagai orang yang riya' dan sum'ah, kemudian memerintahkan malaikat-Nya untuk memperlakukan dia sesuai kelakuannya dan menunjukkan bahwa dia adalah seorang pendusta.

2. Orang yang menampakkan dirinya sebagai orang baik dan bertakwa agar orang-orang yang terkemuka, berkuasa dan kaya, mempercayainya. Dengan itu, dia mendapatkan uang dan kehormatan darinya dengan mudah.

Al-Mustaurid bin Syadad ra bahwa Nabi Saw bersabda, "Barangsiapa memakan makanan yang didapat dengan ca ra menghinakan saudaranya sesama muslim walau sepotong makanan saja maka Allah akan memberikan makanan -yang setara dengan itu- yang berasal dari neraka jahannam. Barangsiapa yang dipakaikan sebuah baju dengan cara menghinakan saudaranya sesama muslim maka Allah akan mengenakan baju semisal dengannya dari neraka jahannam. Barangsiapa yang berdiri terhadap seorang laki-laki dengan niat sum'ah (ingin didengar) dan riya' (ingin dilihat) maka Allah akan mendirikannya pada keadaan sum'ah dan riya' di hari kiamat nanti". (HR Abu Dawud IV/270, Ahmad IV/229, Al-Hakim dan beliau menshahihkannya).

Sikap Mendengar Pujian
Ketika dipuji maka seorang muslim harus mawas diri, tidak merasa ujub dan sombong. Namun jika pujian tersebut tidak benar, dia harus sadar diri dan segera memohon perlindungan kepada Allah. Sebagaimana para sahabat nabi Saw ketika dipuji, mereka membaca doa, "Allahumma laa tu aa khidznii bimaa yaquuluuna waghfirlii maa laa ya'lamuun (Ya Allah janganlah Engkau bebani aku dengan apa yang mereka ucapkan dan ampunilah aku atas apa-apa yang mereka tidak ketahui". (HR Bukhari)
Jangan sampai merasa senang dengan pujian yang tidak benar. Allah Swt menyebutkan bahwa yang demikian adalah sifat orang-orang yahudi dan munafik. Sebagaimana firman-Nya, "...dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih". (QS Ali Imran 3:188).

Maksud dari ayat di atas menurut Imam As-Sa'di adalah, "Senang dipuji dengan kebaikan yang sama sekali tidak dia kerjakan, kebenaran yang sama sekali tidak dia katakan". (Tafsir As Sa'di).

Jangankan Mendengar, Mencuri Dengar Aib Saja Tidak Boleh
Jundub bin 'Abdullah ra berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yang mencuri-curi dengar (aib orang lain), niscaya Allah akan memperdengarkan (aibnya) pada hari kiamat". (HR Bukhari & lihat Fathul Bari XIII/128).

Para sahabat berkata, "Berilah wasiat kepada kami!", Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya anggota tubuh manusia yang pertama kali membusuk adalah perutnya. Maka barangsiapa mampu untuk tidak memakan kecuali makanan yang baik, hendaklah dia melakukannya. Barangsiapa mampu untuk tidak membuat jarak antara dirinya dan surga dengan darah segenggam tangan yang dia tumpahkan, maka hendaklah ia melakukannya".

Hadits ini mengandung larangan berkata keji dan kotor terhadap kaum mukminin, membuka kejahatan dan aib mereka, mempersulit dan menimpakan mudarat terhadap mereka. Juga berisi pesan agar tidak menyelisihi jalan yang ditempuh oleh kaum mukminin, komitmen berjamaah bersama mereka dengan sungguh-sungguh. (Lihat Fathul Bari 13/30)

Ketika Mendengar Ghibah
Al-Imam An-Nawawi rh berkata, "Ketahuilah bahwa seharusnya sikap seseorang yang mendengar ghibah terhadap seorang muslim adalah menolaknya lalu memperingatkan pelakunya. Jika tidak mampu memperingatkan dengan perkataan, maka dengan tangan. Jika tidak mampu dengan tangan maupun dengan lisan, hendaklah dia segera meninggalkan tempat itu. (Al-Adzkar An-Nawawiyyah 294).

Menolak Ghibah
Jabir bin Abdullah & Abu Thalhah ra berkata, Rasulullah Saw bersabda, "Tiada seorangpun yang menghinakan seorang muslim dengan melanggar kehormatannya dan menjatuhkan harga diri nya, kecuali Allah akan menghinakannya, pada saat dia sangat mengharapkan pertolongan-Nya. Tiada seorang pun yang menolong muslim di suatu tempat yang diterjang harga dirinya dan dilanggar kehormatannya kecuali Allah pasti menolongnya di suatu tempat yang dia sangat menginginkan pertolongan-Nya". (HR Abu Dawud 4/271, Ahmad 4/30, Syaikh Nashiruddin Al-Al bani berkata, 'hadits ini hasan'. Lihat Shahih al-Jami' ash-Shaghir 5/160).

Abu Ad-Darda ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yang menjaga kehormatan diri saudaranya dari kezhaliman, pasti Allah akan menjaga wajahnya dari api neraka besok pada hari kiamat". (HR Ahmad 6/450, At-Tirmidzi 4/327, Syaikh Nashiruddin Al-Albani berkata, 'hadits ini shahih'. Lihat Shahih al-Jami' ash-Shaghir 5/295).

Ka'ab bin Malik, dalam haditsnya yang panjang-tentang kisah taubatnya-berkata, "Nabi Saw duduk di tengah para sahabat di Tabuk dan bertanya, "Bagaimana kabar Ka'ab bin Malik?". Seorang laki-laki dari Bani Salamah berkata, "Wahai Rasulullah, dia tertahan oleh dua lembar selimut pada bahunya". Mu'adz bin Jabal ra menghardik orang itu, "Buruk sekali ucapanmu! Demi Allah, wahai Rasulullah, kami tidak mengenalnya kecuali sebagai orang baik". (HR Bukhari V/130, Muslim IV/2122, Ahmad III/457)

Jauhi Sifat Dengki
Abdullah bin Umar ra berkata, "Ada yang bertanya kepada Rasulullah Saw, "Siapakah manusia yang paling utama?". Beliau menjawab, "Setiap orang yang hatinya terpuji dan lisannya jujur. Para sahabat bertanya, "Lisan yang jujur kami sudah paham. Tetapi apa yang dimaksud dengan hati yang terpuji?". Nabi Saw menjawab, "Hati yang bertakwa dan bersih dari kesalahan, tiada dosa padanya, tiada kedurhakaan, tidak ghill (perasaan negatif terhadap orang lain) dan tidak pula dengki". (HR Ibnu Majah No.4216, lihat shahih Ibnu Majah II/411 dan Al-Hadits Ash-Shahi hah nomor 948)

Bahaya dusta untuk Membuat Tertawa
Pelaku ghibah dengan kejahatan dirinya duduk berkumpul dengan manusia, lalu menceritakan aib orang lain untuk bahan tertawaan. Merekapun tertawa. Pada saat itu ia terus bercerita dan menambah kedustaan dan ghibah hanya untuk bahan senda gurau dan membanggakan diri sendiri.

Rasulullah Saw bersabda, "Celakalah orang yang menceritakan sebuah peristiwa, hanya untuk menjadikan orang lain tertawa, lantas dia berdusta. Celakalah dia! Celakalah dia!". (HR Ibnu Majah nomor 4216, lihat Shahih Ibnu Majah II/411 dan Al-Ahadits Ash-Shahihah nomor 948)

Ghibah yang Diperbolehkan
Al-Imam Al-Bukhari berkata,"Para ulama berkata, "Ghibah diperbolehkan untuk semua maksud yang benar menurut syariat seperti kezhaliman, meminta tolong untuk mengubah kemunkaran, meminta fatwa, meminta keadilan mahkamah, memperingatkan dari kejahatan, termasuk juga men-jarh perawi, persaksian, pemberitahuan dari penguasa suatu wilayah tentang keadaan rakyat di bawah pemerintahannya serta jawaban terhadap permintaan konsultasi dalam masalah pernikahan atau akad perjanjian. Demikian juga orang yang melihat ada orang yang berulangkali menuntut ilmu kepada ahli bid'ah. (Fathul Bari 10/471)

Imam An-Nawawi menjelaskan dalam Riyadhus Shalihin hal 525-526 bahwa ada jenis ghibah yang dibolehkan. Ghibah ini dilakukan untuk tujuan yang benar dan syar’i dimana perkara tersebut tidak bisa tuntas kecuali dengan ghibah :

1. Orang yang teraniaya (mazhlum) boleh menceritakan kelakuan buruk saudaranya pada hakim atau yang berwenang memutuskan perkara. Tujuannya untuk mendapatkan keadilan atau bantuan. Namun demikian memberi maaf dan menyembunyikan keburukan adalah lebih baik dalam kondisi tertentu.

2. Menceritakan kelakuan buruk atau maksiat seseorang pada orang lain dengan maksud meminta bantuan untuk amar ma’ruf nahi munkar sebab setiap muslim harus bahu membahu dalam memberantas kebatilan

3. Istifta’ (meminta fatwa) tetang sesuatu hal. Walaupun kita diperbolehkan menceritakan keburukan seseorang untuk meminta fatwa untuk lebih berhati-hati, ada baiknya kita hanya menyebutkan keburukan orang lain sesuai yang ingin kita adukan, tidak lebih.

4. Ghibah dalam rangka memperingatkan saudara muslim dari beberapa cacat dan keburukan orang lain. Misalnya, di dalam ilmu hadits hal dikenal dengan al jarh wa at-ta’dil. Yaitu ilmu tentang penilaian perawi hadits dari sisi positif dan negatifnya. Tentang ini ada pembahasan tersendiri. Contoh lain, untuk memperingatkan agar saudara kita tidak tertipu saat membeli barang atau budak. Untuk saat ini barangkali bisa dianalogikan dengan mencari pembantu atau pegawai. Tujuannya agar terhindar dari keburukannya. Atau untuk memperingatkan seorang pelajar agar tidak salah memilih guru yang ahli bid’ah dan fasik. Tentu dengan cara yang tidak berlebihan.
5. Menceritakan perbuatan fasik yang dilakukan secara terang-terangan. Lebih-lebih jika si pelaku tidak merasa terganggu bahkan mungkin bangga, jika kefasikannya disebut-sebut. Misalnya peminum khamr, pezina, tukang palak dan lain-lain. Al-Hasan pernah ditanya, “Apakah menyebut secara langsung orang yang melakukan kekejian secara terang-terangan disebut ghibah?”. Jawabnya, “Tidak, sebab ia tidak memiliki kehormatan diri”.
6. Sekadar untuk menjelaskan karakter seseorang pada yang belum mengenal. Misalnya kita menyebut si A yang pincang, buta, tuli atau lainnya. Hal ini boleh jika tidak ditujukan untuk menghina atau menjadikannya bahan tertawaan.
Yang harus diingat bahwa keringanan yang diberikan dalam ghibah di atas haruslah dilakukan dengan proporsional, secukupnya dan melihat kondisi dan situasi yang tepat. Kita juga harus hati-hati karena setan akan berusaha memanipulasi ghibah yang haram menjadi seakan-akan diperbolehkan. Alasannya demi nahi munkar (melarang perbuatan munkar) tapi nyatanya, setelah mengghibah tidak melakukan apa-apa dan tidak sedikit nasehatpun sampai kepada objek ghibahnya.

Kehinaan Perilaku Ghibah
1. Allah mengumpamakannya dengan memakan bangkai saudaranya. Bahkan bau busuknya pernah tercium oleh Nabi Saw dan para sahabatnya sebagaimana yang dikisahkan oleh Jabir bin Abdillah ra berkata, “Suatu kali kami bersama Nabi Saw, tiba-tiba kami mencium bau busuk yang menyengat, lalu Rasulullah Saw bersabda, “Ini adalah bau busuk orang yang menggunjing orang-orang mukmin”.” (HR Ahmad, Ibnu Abid Dunya).
Karenanya ketika Amru bin Ash ra melewati bangkai seekor bighal yang telah membusuk, ia berkata kepada teman-temannya, “Sungguh seseorang memakan bangkai ini hingga perutnya penuh, itu lebih baik daripada ia memakan daging saudaranya muslim (menggunjingnya)”.
2. Ghibah laksana penyakit kronis yang berbahaya. Seperti dikatakan oleh Hasan Al-Bashri, “Demi Allah, ghibah itu lebih cepat menggerogoti agama seseorang dibanding penyakit kronis yang menggerogoti jasad”.
3. Kelak mereka akan terkejut, pahala amal shalih yang telah dikumpulkannya ternyata habis untuk membayar dosa ghibah yang dilakukannya. Jika kebaikan habis, keburukan orang yang digunjing akan ditimpakan kepadanya. Sungguh ironi, ia menukar pahalanya dengan dosa saudaranya.
4. Yang lebih mengerikan, apa yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, Nabi Saw bersabda, “Ketika aku dimi’rajkan oleh Allah, aku melihat suatu kaum yang memiliki kuku dari tembaga, mereka mencakar wajah dan dada mereka sendiri lalu aku bertanya kepada jibril?” Jibril menjawab, “Itu adalah orang yang suka memakan daging saudaranya dan menodai kehormatannya”. (HR Abu Dawud)

Orang yg Gemar Melakukan Ghibah
Org yg gemar mengumbar aib sesama muslim mempunyai tujuan :
1. Ingin menutupi aibnya sendiri pada hal sesungguhnya aibnya lebih besar
2. Ingin dipandang mulia di hadapan manusia padahal sesungguhnya dia
lebih hina
Allah Swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) & jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) ...". (Q.S. Al-Hujurat 11)
Rasulullah Saw bersabda, "Barangsiapa yg beriman kpd Allah & hari akhir, maka hendaknya ia mengatakan yg baik atau diam".
Ibnu Hajar rh berkata, "Hadits ini termasuk jawami'ul kalim (pernyataan singkat namun padat maknanya). Sebab yang dimaksud dengan ucapan di sini adakalanya baik atau buruk dan adakalanya mengakibatkan salah satu dari keduanya. Maka, setiap ucapan yg dianjurkan adalah yang termasuk dalam konteks kebaikan, baik yang wajib maupun yang sunnah sehingga diperkenankan mengucapkannya dengan berbagai macam jenisnya. Termasuk di dalamnya juga perkataan yang bermuara kepada kebaikan. Sedangkan yang lainnya, yakni keburukan atau apa yang bermuara kepadanya, beliau memerintahkan untuk diam di saat ada keinginan mengatakannya".
Thabrani dan Baihaqi dalam kitab Az-Zuhd meriwayatkan dari hadits Abu Umamah, Rasulullah Saw bersabda, "Maka hendaklah mengucapkan kebaikan, pasti ia beruntung atau diam dari keburukan, niscaya ia selamat".
Hadits di atas memuat 3 perkara yg menghimpun nilai-nilai akhlak mulia dalam perbuatan dan ucapan. Intinya, barangsiapa yang sempurna keimanannya maka dia memiliki rasa kasih sayang terhadap makhluk Allah dengan :
1. Mengucapkan yang baik
2. Diam dari keburukan
3. Melakukan hal yang bermanfaat atau meninggalkan sesuatu yang
membahayakan

Pengobatan (Cara Bertaubat) Ghibah
Ada 2 cara bertaubat dari ghibah :
1. Meminta maaf pada yang dighibah. Akan tetapi cara ini cara ini rawan menimbulkan sakit hati dan efek samping lain.
2. Menyebutkan kebaikan orang yang dighibah di tempat-tempat dimana dulu dia dighibahi.
Kemudian memohon ampunan, menyesal dan bertekad tidak akan melakukan lagi dan mengakhiri perbuatan buruknya. Cara kedua ini dianjurkan oleh Ibnu Taimiyah rh.

Namiimah
Definisi namiimah menurut Al-Hafidz Ibnu Hajar rh menyampaikan sebuah nukilan dari Al-Imam Al- Ghazali rh yaitu :
Namimah adalah kelakuan membuka sesuatu yang tidak disukai oleh pemiliknya bila dibuka.

Dzul Wajhain (si muka dua)
Rasulullah Saw bersabda, "Akan kalian dapati, manusia paling buruk di hari kiamat adalah dzul wajhain (si muka dua) yang datang pada sekelompok orang dengan satu wajah dan kepada yang lain dengan wajah yang lain".
Qatadah rh berkata, “Diberitakan pada kami bahwa siksa kubur itu dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga karena ghibah, sepertiga karena namimah (fitnah dan adu domba) dan sepertiga karena kencing (yang tidak dijaga)”.

Metodologi Qur'ani dalam Menyikapi Berita :
1. Kembalikan kepada Al-Quran, As-Sunnah dan para ulama
Allah Swt berfirman, “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri[322] di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)[323]. Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (An-Nisaa 4:83)
Maka dlm segala urusan syar'i atau duniawi, besar atau kecil, baik atau buruk, pengembaliannya hanya kpd kitabullah, sunnah Rasul-Nya Saw & para ulama.
Dgn itulah, perkara2 tsb ditimbang & menjadi benar lagi bermanfaat yang hanya bisa diketahui oleh org yg ditunjukkan kepada kebaikan & tertutup bagi selainnya.
Al-Qurthubi menjelaskan,"Artinya bahwa apabila mereka mendengar suatu berita yg mengandung ketenteraman, spt kemenangan kaum muslimin & terbunuhnya musuh2 mereka,(atau ketakutan) yakni kebalikan dr hal itu,maka (mereka menyiarkannya).Yakni mereka menyebarkan,mengungkapkan & memperbincangkannya sebelum mengetahui kebenarannya".
Dhohhak & Ibnu Zaid berkata, "Perbuatan itu berkenaan dgn org2 munafik. Maka mereka dilarang dari hal itu lantaran kebohongan yg mereka tambahkan dlm rangka menimbulkan kekacauan".

2. Tabayyun (Meneliti kebenaran berita dan mengetahui secara menyeluruh)
Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Al-Hujurat 49:6)
Bagi yg mau memperhatikan sebab turunnya ayat di atas, cukuplah peristiwa itu menjadi nasihat & peringatan utk tdk menerima ucapan atau berita kecuali setelah meneliti & mengecek ulang, memastikan, berhati2 serta berusaha mengetahui sendiri hakikat & kandungannya atau melalui orang-orang yg terpercaya.
Kata an-naba' adalah berita misterius dari orang yang membawakannya dan berita tersebut memiliki kedudukan tersendiri. Sedangkan tabayyun ialah mengorek kejelasan kebenaran berita & mengetahuinya secara menyeluruh.
Setelah membawakan peristiwa sebab turunnya ayat di atas, Ibnu Katsir menambahkan, "Qatadah berkata, "Rasulullah Saw bersabda, "Kehati2an itu bersumber dr Allah & tergesa2 itu bersumber dr setan".

3. Jangan Tertipu oleh Berita Orang Kafir dan Munafik
Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (Al-Ahzab 33:60)
Apabila manusia mau merenungkan ayat yg mulia ini & menelaah apa yg dikatakan para ulama tentangnya,nis caya ia akan menemukan suatu pelajaran, ibroh & nasihat utk menahan di ri dr segala apa yg diancam dgn lak nat & kebinasaan oleh Allah Swt.
Al-Qurthubi berkata,"Ayat ini turun ber kenaan dgn para pelaku kekejian". Dikatakan bahwa kaum munafik dan orang-orang yang di hatinya ada penyakit itu hakikat adalah satu, namun diungkapkan dgn dua istilah. Dalilnya adalah ayat tentang org munafik di pembukaan su rat Al-Baqarah.
Dikatakan pula,"Mereka adalah bagian dr kaum muslimin yg suka berbicara dgn berita bohong utk menciptakan ke kacauan.Sungguh,di antara penyebar berita bohong itu (yakni perzinahan yg dituduhkan pada Aisyah ra) adalah sekelompok umat Islam,namun mereka turut menyebarkannya,lanta ran ingin menimbulkan fitnah".
Ibnu Abbas berkata, "Al-Irjaf adalah mencari-cari fitnah (kekacauan) serta menyebarkan kebohongan dan kebatilan untuk mencari keuntungan". Dikatakan pula, irjaf adalah mengobarkan hati (provokasi).
Kata irjaf adalah bentuk tunggal dari kata arojiful akhbaar. Kalimat qod arjafu fisy-syai' artinya mereka telah membicarakan sesuatu. Jadi, irjaf itu haram karena ada unsur menyakiti. Ayat di atas menunjukkan haramnya menyakiti dengan perbuatan irjaf.

4. Harus Ada Saksi
Merenungkan berita bohong (haditsul ifki) yang Allah Swt telah menu runkannya dlm Al-Qur'an yg dibaca sampai hari kiamat,utk membebaskan Ummul Mukminin Aisyah ra dr kebohongan itu & membersihkan keluarga Rasulullah Saw. Yakni kisah yg memuat beberapa pedoman & kaidah syariat dlm menyikapi pernyataan & berita yg biasa didengar manusia dlm setiap masa. Hal itu menjadi gamblang dgn menelaah apa yg disampaikan oleh para ahli tafsir seputar penjelasan ayat-ayat tersebut.
Ibnu Sa'di berkata, "Selanjutnya Allah mengarahkan hamba2-Nya ketika mendengar perkataan seperti ini, Dia berfirman, "Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukmin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri..". Maksudnya, org2 beriman sebagian mereka berprasangka baik thd sebagian yg lain, yakni terbebas dr apa yg mereka tuduhkan & bah wa keimanan yg bersemayam dlm diri mereka menolak kebohongan batil yg ditujukan kpd mereka.
"Dan mereka mengatakan..",lantaran prasangkaan baik tersebut,"Maha Suci Engkau (Ya Allah)" (An-Nur 24:12). Yakni menyucikan-Mu dr segala kebu rukan & bahwa org2 pilihan-Mu tertim pa hal2 yg kotor."Ini adalah suatu beri ta bohong yg nyata" (An-Nur 24:12), yakni kedustaan & fitnah,termasuk hal yg sgt besar & jelas dosanya.Inilah di antara prasangka yg wajib dilakukan seorang mukmin saat mendengar per nyataan seperti ini ttg saudaranya sei man.Yaitu membantah berita tsb dgn ucapan & mendustakan org yg menga takannya,"Mengapa mereka (yg menu duh itu) tdk mendatangkan empat org saksi atas berita bohong itu.." (An-Nur 24:13). Maksudnya,kenapa org2 yg me nuduh itu tdk menghadapkan empat org saksi (yg terpercaya & kredibel) atas tuduhan mereka.
"Oleh krn mereka tdk mendatangkan saksi2 maka mereka itu di sisi Allah adalah org2 yg dusta" (An-Nur 24:13). Meskipun secara pribadi mereka meya kini hal itu,namun sesungguhnya mere ka adalah para pendusta menurut ke tetapan Allah.Karena,Dia telah meng haramkan mereka membicarakan hal itu tanpa adanya 4 org saksi.
Oleh karenanya, Allah berfirman,"Maka mereka itu di sisi Allah adalah org2 yg dusta". Semua ini termasuk mengagungkan kehormatan seorang muslim,dimana ia tdk boleh ceroboh melemparkan tu duhan kpd seseorang tanpa adanya korum (jumlah minimal) persaksian dgn benar.
Pada suatu hari, Umar bin Khattab ra menyaksikan peristiwa perzinahan. Dia kemudian datang ke masjid seraya berkata, "Wahai sekalian manusia! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dan aku mendengar dengan telingaku serta aku ingin menegakkan hukum Allah". Ali bin Abu Thalib ra menimpali, "Apakah engkau memiliki beberapa saksi, sebab hukuman perzinahan membutuhkan empat orang saksi".
Mendengar penuturan Ali tersebut Umar kemudian berkata, "Tidak wahai Ali". Ali kembali berkata, "Janganlah engkau menyebutkan namanya. Jika tidak, engkau akan didera sebagaimana hukuman bagi orang yang menuduh berzina". Umar berkata, "Wahai Ali, sungguh aku telah melihat dan mendengarnya sendiri". Ali ra kembali berkata, "Demi Allah jika engkau menyebutkan namanya niscaya aku akan menderamu dengan 80 kali dera". Umar kemudian berkata, "Baiklah wahai Abu Hasan, aku akan diam".
"Sekiranya bukan karena karunia Allah & rahmat-Nya kpd kamu semua di du nia & di akhirat.."(An-Nur 24:14),dima na Dia telah menaungi kalian dgn ke baikan-Nya di dunia & akhirat,dlm uru san agama & dunia kalian."Niscaya menimpa kalian karena pembicaraan kamu.."(An-Nur 24:14),yakni yg kalian bicarakan,"Tentangnya..",berupa beri ta bohong itu."Siksa yg dahsyat",lanta ran kalian memang pantas mendapat kan hal itu akibat dr apa yg kalian kata kan.Akan tetapi,berkat karunia Allah & kasih sayang-Nya kpd kalian,Dia me merintahkan kalian bertaubat & menja dikan hukuman sbg pencuci dosa.
"(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dr mulut ke mulut.." (An-Nur 24:15),yakni kalian menerima begitu saja (berita bohong itu),sebagi an kalian menyampaikan kpd sebagian yg lain & kalian menyebarkannya,pada hal itu adalah ucapan yg bathil."Dan kamu katakan dgn mulutmu apa yg tdk kamu ketahui sedikitpun..." (An-Nur 24:15),dan kedua hal tsb dila rang,yakni memperbincangkan kebati lan & berbicara tanpa dasar ilmu.
"Dan kamu menganggapnya suatu yg ringan saja.." (An-Nur 24:15). Karena nya beberapa org mukmin berani me lakukannya,yg kemudian mereka ber taubat & membersihkan diri."Padahal dia di sisi Allah adalah besar".(An-Nur 24:15)
Dalam ayat di atas mengandung la rangan keras melakukan dosa dgn cara saling bahu-membahu melakukannya. Karena keburukan seorang hamba tdk mampu memberikan faedah sama sekali kpd org lain & tdk bisa meri ngankan hukuman dosanya.Bahkan se baliknya,akan melipatgandakan dosa nya & ia akan mudah terjerumus utk keduakalinya.
"Dan andaikata ketika kalian mendengarnya.." (An-Nur 24:16),yakni kena pakah ketika kalian -wahai org2 yg beriman- mendengar ucapan para penebar berita bohong itu."..kalian me ngatakan..", dgn menolak berita itu & menganggap besar permasalahannya. "Sekali2 tidaklah pantas bagi kita memperbincangkan ini. Maha suci Eng kau (Ya Rabb kami)..", yakni tdk seyog yanya & sepantasnya kita memperbin cangkan berita yg nyata2 bohong ini. Sebab,kekuatan iman seorang muk min akan mampu menghalangi dirinya dr keinginan melakukan hal2 yg buruk.
"Ini adalah kedustaan yang besar" (An Nur 24:16),yakni kebohongan besar, lantaran efeknya adalah menyakiti ma nusia yg menjurus pada timbulnya ke rusakan di tengah masyarakat.Sedang kan Allah tlh melarang kaum mukmi nin menyakiti antara sesamanya.Maka bila seseorang sengaja menyakiti ma nusia berarti ia menentang Rabbnya. Dan penentangan ini pantas mendapat kan hukuman pembangkangan thd pe rintah Illahi serta hukuman yg lain,yak ni hukuman krn menyakiti manusia se hingga siksaannya ganda.Oleh krn itu, Allah menyatakan kejahatan ini seba gai kejahatan besar dlm firman-Nya, "Padahal dia pada sisi Allah adalah be sar" (An-Nur 24:15)

5. Tidak Boleh Langsung Menyebarkan Apa yang Kita Dengar
Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah me ngetahui,sedangkan kamu tdk mengetahui". (Q.S An-Nur 24 : 19)
Ibnu Katsir rh berkata, "Ini adalah pelajaran ketiga bagi orang yang yang mendengar suatu perkataan yang buruk lantas mempengaruhi pikirannya dan ia ingin menyiarkannya. Hendaklah ia tidak memperbanyak hal itu, tidak menyebarkan dan tidak menyiarkannya. Karena orang-orang yang gembira karena tereksposnya berita buruk tentang kaum beriman, maka mereka akan mendapatkan adzab yang pedih di dunia dan di akhirat. Tindakan yang benar adalah mengembalikan semua permasalahan kepada Allah.
Imam Ahmad meriwayatkan dr Tsauban dr Nabi Saw, beliau bersabda, "Janganlah kalian menyakiti hamba-hamba Allah, jangan mencela mereka dan jangan pula mencari-cari cacat mereka. Karena sesungguhnya orang yang gemar mengorek-orek aib saudaranya yang muslim, pasti Allah membuka aibnya, sehingga Dia menghinakannya di dalam rumahnya sendiri".

6. Tidak Boleh Bicara tanpa Ilmu (Bersaksi Palsu)
Allah Swt berfirman, "Dan janganlah kamu mengikuti apa yg kamu tdk mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan & hati, semuanya itu akan diminta per tanggungjawabannya". (Q.S. Al-Isra 17 : 36)
Ibnu Katsir rh dlm penjelasan ayat ini mengungkapkan,"Ali bin Abi Tholhah mengatakan dr Ibnu 'Abbas,ia berkata, "Maksud jangan engkau mengikuti adalah jangan engkau mengatakan"."
Aufi menceritakan dr Ibnu Abbas juga, "Jangan engkau menuduh seseorang yg engkau tdk tahu menahu akan dirinya". Muhammad bin Hanafiyah berkata, "Maksudnya adalah kesaksian palsu".
Qatadah berkata, "Jangan engkau berkata, 'Aku telah melihat',padahal engkau tdk melihat; 'Aku mendengar' sementara engkau tdk mendengar & 'Aku mengetahui' sedangkan engkau tdk mengetahui.Karena Allah akan me nanyaimu ttg semua itu".
Kesimpulan apa yg beliau sebutkan adalah bahwasanya Allah Swt melarang berbicara tanpa dasar ilmu tetapi hanya berlandaskan asumsi yg me rupakan halusinasi & khayalan belaka.
Sebagaimana yg tertera di dlm firman Allah Swt,"..jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.." (Al-Hujurat 49:36).

Tabayyun
Yang pertama harus dilakukan dalam menyikapi konflik antar sesama mukmin adalah tabayyun yaitu klarifikasi, melakukan kroscek dan menanalisa masalah dengan cermat. Mencari akar permasalahan dan bijaksana dalam memandang alasan dan pendapat semua pihak. Kita juga perlu menimbang dan mengamati, jangan-jangan hal itu adalah ulah orang lain yang bermain, menyulut api permusuhan dan mencoba mengambil keuntungan sehingga dalam bersikap dan menentukan tindakan kita tidak salah.
Tabayun harus kita terapkan ketika mendengar isu-isu yang bisa memicu kebencian, kesalahpahaman dan ada muatan adu domba. Karena bisa jadi, kitalah yang menjadi target operasinya dan hendak dijadikan boneka tangan untuk memusuhi saudara seiman.
Ketika ada yang membawa kabar dan isu tak sedap pada Umar bin Khattab ra, beliau berkata, “Kalau kau mau, kami akan mericek perkataanmu. Kalau kamu bohong maka kamu adalah oknum yang ada dalam ayat, “Jika ada seorang fasiq yang datang membawa berita maka tabayunlah (cek ulanglah)” (Al-Hujurat 6). Dan jika kamu jujur maka kamu adalah orang seperti dalam ayat, “yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah”. (Al-Qalam 11). Tapi jika kamu mau, kamu bisa memaafkanmu?” lelaki itupun berkata, “Kalau begitu maafkan aku wahai amirul mukminin, aku tidak akan mengulanginya lagi selamanya”.
Kedustaan, ghibah, penghinaan dan isu-isu fitnah adalah senjata-senjata setan yang mampu membakar amarah hingga mengobarkan permusuhan antar umat Islam, maka hendaknya kita waspada.

Kritik itu bukan untuk Mengumbar Aib tapi untuk Mencari Kebenaran, baik untuk diri maupun untuk Orang Lain
Adapun mengungkap kesalahan seba gian ulama terdahulu yg berbuat salah dgn menggunakan tutur kata yg baik & sopan dlm membantah & memberi kan jawaban maka tdk ada dosa & ce laan yg perlu ditujukan kepadanya. Meski muncul kesan ia terpedaya oleh kata2nya.Sebagian generasi salaf apa bila sampai kepadanya pendapat yg di ingkarinya,ia berkata, "Si fulan dusta (salah)".Termasuk dlm konteks ini sab da Nabi Saw,"Abu Sanabil berdusta (keliru)",yaitu ketika sampai berita kpd beliau kalau Abu Sanabil berfatwa bah wa seorang istri yg ditinggal mati sua minya dlm keadaan hamil maka tdk serta merta halal (selesai masa iddah nya) dgn melahirkan kandungannya. Namun,ia hrs melewati masa empat bulan sepuluh hari.
Apabila tujuannya hanya menjelaskan kebenaran agar manusia tdk terpeda ya oleh pendapat2 yg keliru,maka tdk disangsikan lagi bahwa ia mendapat pahala krn maksudnya itu & lantaran perbuatannya dgn niat yg tulus ini dia tergolong menasihati utk Allah,Rasul- Nya,pemimpin2 muslimin & kepada kaum muslimin.
Adapun jika maksud dr menyanggah pendapat seseorang adalah utk mem pertontonkan aib & kekurangan org yg dia sanggah,membeberkan kebodo han serta kedangkalan ilmu & semisal nya,maka hal itu haram.Baik sangga hannya tsb langsung atau tidak,di ma sa hidup atau sesudah matinya.
Imam Ahmad meriwayatkan dr Tsau ban dr Nabi Saw,beliau bersabda,"Ja nganlah kalian menyakiti hamba2 Allah,jgn mencela mereka & jgn pula mencari2 cacat mereka.Karena se sungguhnya org yg gemar mengorek- orek aib saudaranya yg muslim,pasti Allah membuka auratnya,sehingga Dia menghinakannya di dlm rumahnya sen diri".

Beberapa Tanda Membedakan Nasihat dan Celaan
Siapa saja yang diketahui bahwa bantahannya kepada para ulama bertujuan sebagai nasihat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia harus diperlakukan dengan penuh penghormatan, pemuliaan dan penghargaan seperti sikap para ulama kaum muslimin yang telah disebutkan di atas.
Siapa saja yang diketahui bahwa dalam menyanggah pendapat orang lain itu ia hanya ingin mencacat, mencela dan mempertontonkan aib orang lain, maka selayaknya ia diberi pelajaran agar ia dan orang-orang yang semisalnya menjauhi kelakuan-kelakuan rendah yang diharamkan ini.
Prasangka buruk terhadap orang yang tidak nampak tanda-tanda keburukan pada dirinya termasuk hal yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya. Jadi, orang yang berprasangka ini telah menggabungkan antara melakukan kesalahan dan dosa dengan menuduh orang yang bersih.
Allah Swt berfirman, "Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa kemudian dituduhkan kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata". (An-Nisa 4:112)
Tergolongnya orang-orang yang berprasangka buruk dalam ancaman tersebut semakin kuat apabila nampak tanda-tanda kejahatan dalam dirinya. Seperti ia suka berbuat zhalim, sewenang-wenang, ceroboh, banyak bicara, suka mengghibah, memfitnah, iri terhadap manusia atas apa yg Allah anuge rahkan kepada mereka, mengungkit-ungkit jasa & sangat berambisi utk merebut kekuasaan sebelum waktunya. Siapa pun yg diketahui pada dirinya terdapat sifat-sifat yang dibenci para ahli ilmu & ula ma ini, maka hakikatnya dia hanya me ngarahkan sanggahan & bantahannya kpd mereka karena tujuan ingin men cela sehingga dia berhak dibalas deng an kehinaan.
Sedangkan orang yang secara umum tidak nampak tanda-tanda yang mengindikasikan suatu keburukan pada dirinya maka perkataannya harus ditafsirkan sebaik-baiknya dan tidak boleh ditafsirkan pada keadaannya yang paling buruk (yakni mencela).
Umar bin Khattab ra berkata, "Jangan lah engkau mempersepsikan negatif satu ucapanpun yang keluar dari mulut saudaramu seagama, sedangkan engkau mendapati penafsirannya pada hal yang positif".

Cara Menasihati
Apabila seseorang menunjukkan satu aib kepada saudaranya agar ia meng hindarinya,niscaya hal itu baik bagi org yg diberitahu tentang aibnya se hingga dia bisa mengemukakan ala san bila memang mempunyai alasan. Namun apabila hal itu dilakukan untuk memperolok-olok perbuatan dosa,ma ka itu tindakan buruk lagi tercela.
Rasulullah Saw telah melarang men cemooh seorang budak wanita yg berzina,sekalipun beliau memerintahkan untuk menderanya. Dia didera sebagai penerapan hukum had dan tidak dicela serta diperolok-olok karena perbuatan dosanya.
Rasulullah Saw bersabda, "Siapa yang mencemooh saudaranya karena suatu dosa, niscaya dia tidak akan mati hingga melakukan perbuatan dosa tersebut". (HR At-Tirmidzi)
Demikian itu ditafsirkan pada dosa yang pelakunya telah bertaubat darinya.
Fudhail bin Iyadh berkata,"Orang muk min itu bila berbuat salah ditutupi dan dinasihati, sedangkan org fajir diung kap & dicela".
Yang disebutkan Fudhail ini di antara ciri2 nasihat dan celaan.Yakni bahwa nasihat itu diiringi dengan penutupan aib,sedangkan celaan diiringi dengan pembeberan aib. Siapa yang memerintah saudaranya di hadapan publik berarti dia telah melecehkannya. Mengekspos dan membeberkan aib adalah hal yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya.
Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua dan bahwasanya Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang (niscaya kamu akan ditimpa adzab yang besar)". (Q.S. An-Nur 24 : 19-20)
Sebagian ulama berpesan kepada orang yang beramar ma'ruf, "Bersungguh-sungguhlah untuk menutupi kesalahan orang-orang yang berbuat maksiat. Karena munculnya aib mereka dapat melemahkan Islam, sedangkan sesuatu yg paling berhak ditutupi adalah aurat (aib).

Ada 3 tipe Orang Yang Membicarakan Aib
1. Penasihat, yaitu
- menghilangkan atau bersungguh-sungguh dlm menutupi aib saudaranya
- agar dia menghindarinya
- tujuannya menghilangkan kerusakan dan menguatkan Islam
2. Orang fajir, yaitu
- menyebarkan aib saudaranya seiman
- mencemarkan kehormatannya
- tujuannya agar tertimpa kesusahan di dunia dan melemahkan Islam
3. Orang munafik, yaitu
- menyebarkan aib saudaranya seiman tapi dalam kemasan nasihat
- tujuannya agar tercapai kepentingannya, orang yang diumbar aib
tertimpa kesusahan dan melemahkan Islam
- menjadikan dirinyalah pahlawan kebaikan dan yang paling berhak atas
pujian, kehormatan dan materi
Jadi, betapa jauhnya perbedaan antara orang yang bertujuan menasihati dan orang yang hanya berambisi melecehkan. Tidak akan tersamarkan antara keduanya kecuali pada diri orang yang tidak memiliki akal sehat.

Hukuman Menyebarluaskan Keburukan & Mencemarkan Nama Baik
1. Allah pasti mengusut aibnya dan menghinakannya, walaupun di dalam tempat tinggalnya sendiri Imam Ahmad meriwayatkan dari Tsauban dari Nabi Saw, beliau bersabda, "Janganlah kalian menyakiti hamba-hamba Allah, jangan mencela mereka dan jangan pula mencari-cari cacat mereka. Karena sesungguhnya orang yang gemar mengorek-orek aib saudaranya yang muslim, pasti Allah membuka auratnya,sehingga Dia menghinakannya di dlm rumahnya sendiri".
2. Allah akan menimpakan cobaan dan menjaga saudaranya
Rasulullah Saw bersabda, "Janganlah engkau menampakkan kegembiraan karena musibah saudaramu, akibatnya Allah akan menjaganya dan menimpakan cobaan kepadamu". (HR Tirmidzi)
3. Dia tdk akan mati sampai melakukan dosa (aib) tersebut
Rasulullah Saw bersabda, "Siapa yang mencemooh saudaranya karena suatu dosa, niscaya dia tidak akan mati hing ga melakukan perbuatan dosa tersebut". (HR At-Tirmidzi)
Tatkala Ibnu Sirin terhimpit hutang dan dipenjara karenanya, dia berkata, "Sungguh,aku mengetahui dosa yg me nyebabkan aku mengalami musibah ini. Aku telah mencela seseorang 40 ta hun silam,aku berkata kepadanya, 'Wahai pailit'."

Hukuman Perbuatan Makar kepada Orang Lain
Allah Swt mengabarkan bahwa petaka makar akan kembali kepada pelakunya. Allah Swt berfirman, "Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain org yg merencanakannya sendiri". (Q.S. Fathir 35:43)
Realita membuktikan hal itu. Bagi yg mengikuti berita kehidupan manusia dan sejarah dunia, dia pasti akan me ngetahui kisah org yg berencana buruk terhadap saudaranya, namun makar tersebut berbalik kepada dirinya.

Pencela
Setiap kali Umayyah bin Khalaf melihat Rasulullah Saw maka pastilah dia selalu mencaci-maki dan menghina beliau. Maka turunlah firman Allah Swt, "Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela". (Q.S. Al-Humazah 1)
Ibnu Hisyam berkata,"
1. Al-Humazah adalah orang-orang yang selalu mencaci-maki orang lain dengan terang-terangan dan ketika dia memaki, maka matanya melotot serta mengisyaratkan penghinaan".
2. Al-Lumazah adalah orang yang membeberkan aib dan mencela orang lain secara sembunyi-sembunyi".

Jangan Buang Kesempatan di Dunia ini Dengan Berbicara yang Bathil
Selagi masih di dunia, pergunakanlah kesempatan berbicara sebaik mungkin, jangan sia-siakan dengan berbicara yang bathil karena di akhirat nanti tidak ada lagi kesempatan itu yang ada hanyalah pertanggungjawaban setiap kata yang keluar dari mulut kita.
Di akhirat kelak, ketika umat Nabi Muhammad Saw menyeberangi jembatan (shirath) dimana jembatan ini adalah jalan terakhir yang menentukan apakah manusia masuk surga atau neraka. Ketika itu, tidak seorangpun yang boleh bicara, hanya Nabi Saw yang diizinkan oleh Allah Swt untuk berbicara.

Di Akhirat nanti ketika menyeberangi Shirath (Jalan Menuju Surga) hanya Rasul yang Boleh Bicara
Rasulullah Saw bersabda, "Aku dan umatku yang paling pertama yang diperbolehkan melewati sirath dan ketika itu tidak ada seorangpun yang berbicara kecuali Rasul dan Rasul berdoa, 'Ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah’. (HR Bukhari)

Perkataan yang Paling Berat Timbangannya di Sisi Allah Swt
Rasulullah Saw bersabda, ” Musa berkata: “Ya Rabb, ajarkanlah kepadaku sesuatu untuk mengingat-Mu dan berdoa kepada-Mu”, Allah berfirman:” ucapkan hai Musa لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ Musa berkata: “ya Rabb, semua hamba-Mu mengucapkan itu”, Allah menjawab:” Hai Musa, seandainya ketujuh langit serta seluruh penghuninya –selain Aku- dan ketujuh bumi diletakkan dalam satu sisi timbangan dan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ diletakkan pada sisi lain timbangan, niscaya kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ lebih berat timbangannya”.
(HR. Ibnu Hibban, dan Hakim sekaligus menshahihkan-nya)

Ucapan Terakhir yang Akan Menyelamatkan kita di Akhirat Kelak
Rasulullah Saw bersabda, ”Barangsiapa akhir ucapannya "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan selain Allah) niscaya dia masuk surga”. (HR. Abu Dawud)
Rasulullah Saw bersabda, ”Barangsiapa mati dan dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah dengan ikhlas dari hatinya, maka Allah mengharamkan badannya dari Neraka" dalam riwayat lain : "Maka dia akan masuk Surga". [Hadits Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad (5/236), Ibnu Hibban (4) dalam Zawa'id dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (3355)].
Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt mengharamkan neraka bagi orang orang yang mengucapkanلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ dengan ikhlas dan hanya mengharapkan (pahala melihat) wajah Allah”. ( HR. Bukhari dan Muslim)
Mengucapkan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهَ (Laa ilaaha illallaah) di akhir hayat, tidak semudah yang dibayangkan karena mudah atau sulitnya mengucapkan kalimat tersebut ketika saqaratul maut (menjelang kematian) tergantung dari proses perjalanan selama hidupnya.
Kalau selama hidupnya terus-menerus menjaga dan menegakkan kalimat Laa ilaaha illallaah maka mengucapkannya akan mudah. Sebaliknya, kalau selama hidupnya tidak pernah menjaga dan menegakkan kalimat Laa ilaaha illallaah maka mengucapkannya akan sulit.
Agar kita bisa mengucapkannya dengan mudah, kita harus senantiasa menjaga dan menegakkan kalimat Laa ilaaha illallaah maka kita harus tahu makna Laa ilaaha illallaah, rukun, syarat, konsekuensi dan yang membatalkannya.

Jumat, 02 Juli 2010

Komentar tokoh tentang membaca


Komentar Tokoh tentang Membaca


Seorang mahasiswa Belanda bertanya kepada Bung Karno yang sedang dibuang ke Bengkulu Tahun 1938. “Tuan, saya lihat Tuan telah membaca semua buku yang Tuan pesan dengan sungguh-sungguh sekali. Mengapa Tuan belajar begitu giat?” Bung Karno mrnjawab, “Orang muda, saya harus belajar giat sekali karena insya Allah saya akan menjadi presiden di negeri ini.” Tujuh tahun kemudian hal itu menjadi kenyataan (dalam buku Musim Berganti, karya Rosihan Anwar)

Ketika dibuang ke Boven Digul, Bung Hatta membawa 16 peti bukunya. Selagi menjadi mahasiswa di Rotterdam, ia ke Jerman dan keliling Eropa Tengah. Di Hamburg ia memborong banyak buku di toko Meissner. Kegemarannya membaca dipuji Haji Agus Salim. Ketika itu Hata sudah membaca buku Baumhauer.

Soejatmiko, yang akrab dipanggil Koko, adik ipar Sutan Sjahrir, menurut Nurcholis Madjid, dikalangan intelektual Amerika dijuluki The Prince Indonesian Intellectual. Ketika masih di sekolah dasar, ia sudah membaca seri sejarah dunia dan kisah-kisah petualangan fiksi ilmiah Jules Verne. Di sekolah menengah, bacaannya mulai berat seperti karya Hegel, Karl Marx, atau Nietzsche, Ghandi, Khisnamurti serta Swami Vivekananda. (Dari artikel, Aku Ada Karena Buku: Mereka Berjuang Bersenjatakan Buku, M. Fahmi, Intisari, Mei 2005)

“Jangan terlalu banyak membaca, nanti matamu rusak”, kata sang bunda kepada Gus Dur yang kala itu berumur 10 tahun. Sejak di SMEP, ia sudah fasih berbahasa Inggris. Bacaannya, semisal What is to Be done-nya Lenin, Das Kapital Karya Karl Marx, buku filsafat Plato, Thaless, novel William Bochner, Romantisme Revosioner karangan Lenin. (dari buku, Beyond the Symbols: Jejak Antropologis Pemikiran dan Gerakan Gus Dur, Rosda Karya). Gus dur membaca pula buku Ethica Nechomochea karya Aristoteles yang hidup 1000 tahun sebelum datangnya Islam. Buku yang diterjemahkan Ibnu Rusyd menjadi Al Kitab Al-Akhlaq itu telah turut menuntunnya memahami ajaran-ajaran Islam yang mulia tentang toleransi, egaliterianisme, dan masalah-maslah mendasar lainnya dalam berhubungan antara sesama manusia. (Moh, Mahfud MD, Pemikiran dan Langkah Politik Gus Dur, artikel SINDO, 21 Feb 2008)

BJ. Habibie, mantan presiden ke-3 RI memiliki ciri khas yang melekat semenjak kecil, yaitu serakah membaca! Seolah-olah ada perasaan berdosa yang menyelinap dalam dirinya jika sampai membiarkan bacaan apapun menganggur (Mini Biografi dalam Buku MHMMD, karya Marwah D. Ibrahim).

“Membaca dan menulis itu seperti bernafas. Ada saat menghebus dan menarik. Menghembus berarti kita menulis, dan menarik berarti saat kita mencari informasi dari buku.”
Dewi dee Lestari, penyanyi dan novelis, Supernova dalam Home Library, Edisi1/III,2007,Gramedia)

Pakta Integritas




Kepada Yth:

1. Para Pemangku Kepentingan.
2. Para Calon Penyedia Barang/Jasa.
3. Para Penyedia Barang/Jasa.
4. Para Calon Pemohon Perizinan.
5. Para Pemegang Perizinan.
di tempat

SURAT EDARAN
Nomor: 01/SE/M/KOMINFO/05/2010

T e n t a n g
Pakta Integritas Kementerian Kominfo
Dalam Rangka Penyelenggaraan Pelayanan Pemerintahan Yang Baik dan
Pencegahan Tindak Pidana Korupsi
Dalam rangka penyelenggaraan pelayanan pemerintah yang baik (good governance) dan juga dalam upaya pencegahan tindak pidana korupsi atas pelaksanaan kegiatan program kerja dan pelayanan perizinan di lingkungan Kementerian Kominfo, bersama ini diminta kepada masyarakat umum dan khususnya para mitra kerja dan pemangku kepentingan Kementerian Kominfo seperti para penyelenggara pos, penyelenggara telekomunikasi, penyelenggara penyiaran, vendor, asosiasi yang terkait, dan para calon atau penyedia barang/jasa untuk tidak memberikan hadiah maupun bingkisan dalam berbagai bentuk baik secara langsung maupun tidak langsung kepada seluruh Pejabat dan Staf Kementerian Kominfo.
Kepada seluruh Pejabat dan Staf Kementerian Kominfo (khususnya yang telah ditunjuk untuk penugasan tertentu) diwajibkan untuk mematuhi dan memenuhi beberapa ketentuan yang berlaku di bawah ini:
1. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
2. UU No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
3. UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.
4. UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik.
5. Keputusan Presiders Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah beserta perubahannya, serta peraturan perundang-undangan lain yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan pemerintahan yang baik dan pencegahan tindak pidana korupsi.
Seandainya terdapat Pejabat dan Staf Kementerian Kominfo yang diduga telah terbukti melakukan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan tersebut di atas, kepada setiap individu atau warga masyarakat siapapun saja diminta kesediaanya untuk melaporkan kepada kami melalui Telepon (021) 3504024; Fax:: (021) 3504024 atau Email: pih@depkominfo.go.id
Demikian Surat Edaran ini disampaikan kepada masyarakat umum untuk diketahui sesuai dengan peruntukannya dan atas kerja-samanya, diucapkan terima-kasih.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 10 Mei 2010

Sumber : Depkominfo

JURNALISME RADIO

PENGENALAN RADIO DAN FUNGSINYA.

Radio memiliki sejumlah fungsi, seperti mentransmisikan pesan, memdidik,membujuk, dan menghibur. Dalam penyampaian pesannya, radio bisa mengambil model komunikasi apa saja. Entah itu model satu arah, mapun dua arah. Model satu arah, maupun dua arah. Model satu arah mengasumsikan radio sebagai komunikator tunggal yang menyampaikan pesan pada khalayak pasif. Sedangkan model dua arah memosisikan radio sebagai komunikator yang melakukan intelektual timbal nalik dengan khalayak aktif. Kecenderungannya memang kini lebih banyak acara-acara interaktif di radio. Dengan Slogan “sahabat Bagi Siapa Saja”, agak sulit jika radio bertahan dengan model komunikasi klasik yang bersifat linear satu arah. Radio semacam itu akan ditinggalkan oleh para pendengar yang merasa tidak terlibat dalam program yang diudarakan.
Radio tergolong sebagai media elektronik sebagaimana media komunikasi massa lainnya radio memiliki kekhasan tersendiri.

Kekuatan Radio :

1. Radio dapat membidik khalayak yang spesifik. Artinya, Radio memiliki kemampuan untuk berfokus pada kelompok demografis yang dikehendakinya, selain itu untuk mengubah atau mempertajam segmen atau ceruk sasaran yang dituju, radio jauh lebih fleksibel dibandingkan media komunikasi massa lainnya.
2. Radio bbersifat mobile dan portable. Orang bisa menjinjing radio kemana saja. Sumber energinya kecil dan sama portablenya. Radio bisa menyatu dengan alat fungsi alat penunjang kehidupan lainnya mulai dari senter, mobil, hanphone.
3. Radio bersifat intrusif, memiliki daya tembus yang tinggi. Sulit sekali menghindar dari siaran radio, begitu radio dinyalakan, radio bisa menembus ruang-ruang dimana media lain tidak bisa masuk, misalnya dalam mobil. Walaupun kini televisi menjadi acesoris tambahan tetap radio tak terpisahkan.
4. Radio bersifat flexible, dalam arti dapat menciptakan program dengan cepat dan sederhana, dapat mengirim pesan dengan segera, dan secepat membuat perubahan.
5. Radio itu sederhana: sederhana mengoperasikannya, sederhana mengelolanya dan sederhana isinya.

Kelemahan Radio :

1. Satu-satunya yang diandalkan oleh radio adalah bunyi. Radio tidak dilengkapi dengan kemampuan menyampaikan berita melalui gambar.
2. Radio hanya menyampaikan pesan satu arah, sekilas dan tidak dapat ditarik lagi begitu diudarakan.Oleh karena itu menyampaikan pesan melalui radio tidak bisa main-main.
3. Mendengarkan radio itu rentan pendengaran. Radio hanya berurusan dengan satu indra saja:pendengaran. Begitu pendengaran terganggu, maka tidak ada lagi cerita radio dalam kehidupan seseorang. Orang kerap mendengarkan radio



Daya serap Informasi Radio.

- 7% bersumber dari ekspresi verbal,
- 38% berasal dari faktor audio
- 55% berasal dari ekspresi wajah.

Radio adalah media yang menyampaikan pesan menggunakan sarana audio. Maka keterserapan informasi atau kemampuan pendengar memaknai radio tidak lebih dari 38% saja!

Lembaga dan regulasi radio.

Undang – undang penyiaran No. 32 / 2002 yang berlaku di Indonesia memerinci jenis-jenis lembaga penyiaran sebagai berikut :

1. Lembaga penyiaran publik, yaitu lembaga penyiaran berbentuk badan hukum yang didirikan oleh negara, bersifat independen, netral, tidak komersial, dan tugasnya adalah memberi pelayanan publik yang terkait penyiaran ( pasal 14 ) contohnya RRI dan TVRI.
2. Lembaga penyiaran swasta, yaitu lembaga penyiaran berbrntuk badan hukum bersifat komersial tujuannya adalah menyelenggarakan jasa penyiaran ( pasal 16 ) atau dengan kata lain mengekpoitasi peluang ekonomi lembaga penyiaran. Sebagian besar radio dan TV yang kita kenal sekarang ini adalah lembaga penyiaran swasta.
3. Lembaga penyiaran komunitas, yaitu lembaga yang berbentuk badan hukum yang didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independen, tidak komersial, dengan daya pancar rendah, jangkauan wilayah cakupannya kecil dan tujuannya adalah melayani komunitas ( pasal 21 ) contohnya radio komunitas kampus, komunitas petani dan TV-TV lokal.
4. Lembaga penyiaran berlangganan, yaitu lembaga penyiaran berbentuk badan hukum yang menyelenggarakan jasa penyiaran berlangganan bermacam-macam ada yang melalui satelit, TV kabel, jaringan terestrial contohnya TV kabel yang banyak beroperasi di Indonesia.

Jurnalisme radio dipraktikan oleh RRI sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. RRI mengemban fungsi yang sangat strategis. RRI menjadi bagian dari pendidikan massa dan pemersatu bangsa disamping menghibur masyarakat.

Ingin tahu lebih banyak ????

Beli bukunya : Jurnalisme Radio
Karya : Santi Indra Astuti
Info pesan : Dody (022) 76697476
Fax : 0225208370
PENGENALAN RADIO DAN FUNGSINYA.

Radio memiliki sejumlah fungsi, seperti mentransmisikan pesan, memdidik,membujuk, dan menghibur. Dalam penyampaian pesannya, radio bisa mengambil model komunikasi apa saja. Entah itu model satu arah, mapun dua arah. Model satu arah, maupun dua arah. Model satu arah mengasumsikan radio sebagai komunikator tunggal yang menyampaikan pesan pada khalayak pasif. Sedangkan model dua arah memosisikan radio sebagai komunikator yang melakukan intelektual timbal nalik dengan khalayak aktif. Kecenderungannya memang kini lebih banyak acara-acara interaktif di radio. Dengan Slogan “sahabat Bagi Siapa Saja”, agak sulit jika radio bertahan dengan model komunikasi klasik yang bersifat linear satu arah. Radio semacam itu akan ditinggalkan oleh para pendengar yang merasa tidak terlibat dalam program yang diudarakan.
Radio tergolong sebagai media elektronik sebagaimana media komunikasi massa lainnya radio memiliki kekhasan tersendiri.

Kekuatan Radio :

1. Radio dapat membidik khalayak yang spesifik. Artinya, Radio memiliki kemampuan untuk berfokus pada kelompok demografis yang dikehendakinya, selain itu untuk mengubah atau mempertajam segmen atau ceruk sasaran yang dituju, radio jauh lebih fleksibel dibandingkan media komunikasi massa lainnya.
2. Radio bbersifat mobile dan portable. Orang bisa menjinjing radio kemana saja. Sumber energinya kecil dan sama portablenya. Radio bisa menyatu dengan alat fungsi alat penunjang kehidupan lainnya mulai dari senter, mobil, hanphone.
3. Radio bersifat intrusif, memiliki daya tembus yang tinggi. Sulit sekali menghindar dari siaran radio, begitu radio dinyalakan, radio bisa menembus ruang-ruang dimana media lain tidak bisa masuk, misalnya dalam mobil. Walaupun kini televisi menjadi acesoris tambahan tetap radio tak terpisahkan.
4. Radio bersifat flexible, dalam arti dapat menciptakan program dengan cepat dan sederhana, dapat mengirim pesan dengan segera, dan secepat membuat perubahan.
5. Radio itu sederhana: sederhana mengoperasikannya, sederhana mengelolanya dan sederhana isinya.

Kelemahan Radio :

1. Satu-satunya yang diandalkan oleh radio adalah bunyi. Radio tidak dilengkapi dengan kemampuan menyampaikan berita melalui gambar.
2. Radio hanya menyampaikan pesan satu arah, sekilas dan tidak dapat ditarik lagi begitu diudarakan.Oleh karena itu menyampaikan pesan melalui radio tidak bisa main-main.
3. Mendengarkan radio itu rentan pendengaran. Radio hanya berurusan dengan satu indra saja:pendengaran. Begitu pendengaran terganggu, maka tidak ada lagi cerita radio dalam kehidupan seseorang. Orang kerap mendengarkan radio



Daya serap Informasi Radio.

- 7% bersumber dari ekspresi verbal,
- 38% berasal dari faktor audio
- 55% berasal dari ekspresi wajah.

Radio adalah media yang menyampaikan pesan menggunakan sarana audio. Maka keterserapan informasi atau kemampuan pendengar memaknai radio tidak lebih dari 38% saja!

Lembaga dan regulasi radio.

Undang – undang penyiaran No. 32 / 2002 yang berlaku di Indonesia memerinci jenis-jenis lembaga penyiaran sebagai berikut :

1. Lembaga penyiaran publik, yaitu lembaga penyiaran berbentuk badan hukum yang didirikan oleh negara, bersifat independen, netral, tidak komersial, dan tugasnya adalah memberi pelayanan publik yang terkait penyiaran ( pasal 14 ) contohnya RRI dan TVRI.
2. Lembaga penyiaran swasta, yaitu lembaga penyiaran berbrntuk badan hukum bersifat komersial tujuannya adalah menyelenggarakan jasa penyiaran ( pasal 16 ) atau dengan kata lain mengekpoitasi peluang ekonomi lembaga penyiaran. Sebagian besar radio dan TV yang kita kenal sekarang ini adalah lembaga penyiaran swasta.
3. Lembaga penyiaran komunitas, yaitu lembaga yang berbentuk badan hukum yang didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat independen, tidak komersial, dengan daya pancar rendah, jangkauan wilayah cakupannya kecil dan tujuannya adalah melayani komunitas ( pasal 21 ) contohnya radio komunitas kampus, komunitas petani dan TV-TV lokal.
4. Lembaga penyiaran berlangganan, yaitu lembaga penyiaran berbentuk badan hukum yang menyelenggarakan jasa penyiaran berlangganan bermacam-macam ada yang melalui satelit, TV kabel, jaringan terestrial contohnya TV kabel yang banyak beroperasi di Indonesia.

Jurnalisme radio dipraktikan oleh RRI sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. RRI mengemban fungsi yang sangat strategis. RRI menjadi bagian dari pendidikan massa dan pemersatu bangsa disamping menghibur masyarakat.

Ingin tahu lebih banyak ????

Beli bukunya : Jurnalisme Radio
Karya : Santi Indra Astuti
Info pesan : Dody (022) 76697476
Fax : 0225208370